Oleh :
Chandra Krisnawan
(Di sebuah tanggul sungai puluhan gubuk melesak
ke dindingnya
Di seberangnya puing perkampungan
dikelilingi pagar beton
Aku ingat! Satu keluarga kecil pernah tinggal
di sana)
Bila putik-putik rumput lalang di padang
terbuka
Getar gemerencang kerna berebut ruang* di bumantara
Bila gemuruh arus kering dari lereng gunung melanda
Bila gemuruh arus kering dari lereng gunung melanda
Sebab bahara ditanggalkan dari pundak
Dan bila di atas khatulistiwa matahari tegak
Musim di belahan lintang tinggi beranjak;
Dan bila di atas khatulistiwa matahari tegak
Musim di belahan lintang tinggi beranjak;
Seorang lelaki bersama keluarga kecilnya
Membongkar gubuk dari potongan kayu sisa.
Lalu ia dengar dengut geliat gema mereda
Tinggal nisan dan kesan. Belukar merayap
Pulanglah: dusun di kaki gunung yang terselap
Puluhan tahun lalu menyeru dari dada
yang sembap!
Tanah kota yang disauh tengah tengkar.
Dan tatkala daun-daun pintu berderit
gemetar
Surat peringatan pembongkaran beredar.
Atap seng cemas dan berderak. Angin liar
dan kotor.
Jalannya sidang melantunkan nada-nada
mayor
Sumbang dan angkuh seangkuh cakar ekskavator.
Bak gubuk yang tercerabut dari bentala
Putik-putik rumput lalang berhamburan ke
udara
Ringan namun lara.
Dan bagai keluarga kecil dalam truk
bermuatan sisa gubuk
Putik rumput lalang menumpang arah angin
menyerbuk.
Bumi yang luas hendak disauk.
Eksekusi penggusuran adalah keniscayaan.
Sedang gemam dari dada yang dalam adalah gugatan
kepada zaman:
Kapan kemiskinan dimenangkan!
Lirih larau minornya tersekat di
tenggorokan
Surabaya, April–Juni 2017
* frasa ini diilhami dari
judul buku Purnawan Basundoro yang Berjudul “Merebut Ruang Kota: Aksi Rakyat Miskin
Kota Surabaya 1900-1960an.
* Dalam puisi ini digunakan bentuk
‘kerna’ yang dalam bentuk bakunya ‘karena’. Penggunaan bentuk ‘kerna’ di luar
bentuk bakunya dimaksudkan untuk memperpendek arus ujaran. Selain itu digunakan
pula bentuk ‘gemam’ untuk menggantikan ‘gumam’.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar