Senin, 24 April 2017

BERKUNJUNG KE BLITAR BAGIAN 2



Apa yang sudah diperkirakan sebelumnya benar-benar terjadi. Kami mendatangi stasiun di hari H dan mendapati tiket sudah habis. Kami segera meluncur ke Bungurasih (terminal ini sebenarnya bernama Terminal Purabaya; namun karena terletak di wilayah Bungurasih lebih dikenal dengan terminal Bungurasih), terminal bus antar kota terbesar di Jawa Timur.

Saya tidak ingat kapan terakhir kali ke Bungurasih. Seingat saya, waktu itu terminal masih dalam perbaikan. Kini terminal sudah selesai dibangun. Para penumpang yang akan naik bus harus naik ke lantai dua terlebih dahulu. Sedangkan lantai satu hanya untuk menunggu.

Dari lantai dua selanjutnya  menuju lorong yang melintasi pelataran bus. Sepertinya pembangunan lorong di atas ini dimaksudkan agar lalu lalang calon penumpang tidak mengganggu arus lalu lintas bus. Mungkin juga untuk menghindari resiko kecelakaan apabila terlalu banyak lalu lalang di jalur lalu lintas bus.

Setelah keluar dari lorong kemudian menuruni tangga sesuai dengan jurusan yang hendak dituju. Kami, saya dan anak saya, turun di bagian bus jurusan Surabaya-Malang. Sebenarnya tersedia bus jurusan Surabaya-Blitar yang melewati daerah Kediri. Tapi kami tidak memilihnya. Idenya adalah, supaya di terminal Arjosari Malang kami bisa istirahat sekedar melepas lelah.

Pukul 9 kurang bus yang kami tumpangi melaju. Jalanan lancar. Bus melintasi tol baru. Saya agak terkesima ketika bus sampai di kilometer 50. Sepertinya jalan tol yang kami lewati membelah sebuah bukit. Sepanjang kiri-kanan jalan nampak lereng mengapit. Makin ke tengah makin curam dan kembali melandai. Bus baru keluar dari celah itu ketika sampai di kilometer 52.



Lepas dari tol jalanan lancar. Hanya ada sedikit kemacetan ketika memasuki daerah Lawang dan Singosari. Selebihnya bus melaju dengan kecepatan stabil. Kami tiba di terminal Arjosari Malang sekitar pukul 11.

Seperti halnya Bungurasih, terminal Arjosari pun memiliki wajah baru. Konsep 'tidak ada lalu lalang manusia di lintasan bus' sepertinya hendak diadopsi oleh terminal-terminal yang terbilang ramai di Jawa Timur ini. Entah apakah konsep itu berhasil atau tidak. Pastinya kami harus naik-turun tangga untuk menuju antrian bus yang jaraknya hanya beberapa meter saja. Sungguh melelahkan....

Bus tujuan Blitar sudah penuh ketika kami selesai istirahat makan siang. Terpaksa kami harus menunggu bus berikutnya. Para calon penumpang semakin bertambah. Lima belas menit berlalu namun bus yang ditunggu belum juga tiba.

Sekitar 100 meter dari tempat tunggu terdapat sebuah bus. Entah siapa yang pertama kali memberi tahu, tapi orang-orang yang hendak menuju Blitar bergerak ke sana. Katanya bus itu tujuan Blitar dan akan segera berangkat. Kami pun mengikuti arus orang-orang menuju bus itu. Bangunan berlantai dua itu tak lagi kami hiraukan.



Akhirnya kami berada di atas bus yang akan membawa kami ke Blitar. Sebuah bus ekonomi tanpa AC dengan penumpang yang berdesak-desakan. Panas dan penuh kesah. Beberapa orang pengamen dan pedagang asongan meliuk-liuk di antara punggung penumpang yang berdiri. Mereka mencoba mengais rezeki dari sesaknya bus antar kota. Sungguh, situasi seperti ini akan selalu dirindukan!

Di tengah kondisi itu sedapat mungkin saya menghibur anak saya. Saya tidak ingin perjalanan ini menjadi pengalaman yang melelahkan dan menjemukan baginya. Sesekali saya bercerita tentang tempat-tempat yang akan kami lalui. Saya selipkan pula cerita tentang pemandangan-pemandangan yang kami lihat dan akan kami lihat. Sayangnya, ketika bus melintasi Karangkates yang jalannya meliuk-liuk, anak saya sudah tertidur. Padahal saya ingin menunjukkan padanya tiga batang 'rokok raksasa' dan lekak-lekuk jalan di atas gunung.

Lepas dari Kota Malang perjalanan mulus setelah sebelumnya merayap karena ada kemacetan. Satu demi satu penumpang datang dan pergi. Memasuki Kabupaten Blitar tak nampak penumpang bertambah. Kemudian satu per satu penumpang turun. Bus menjadi lebih longgar. Dan ketika mendekati Kota Blitar kami bertiga sudah bisa duduk tanpa berdesak-desakan lagi.



Sekitar pukul 4 kami tiba di terminal Patria Blitar. Mendung menyergap di langit. Jalanan di terminal basah. Sekawanan burung terbang di langit rendah. Satu perjalanan sudah selesai untuk dinikmati. Sambil menunggu saudara saya menjemput kami, kami minum es degan di sebuah depot di terminal.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar