Rabu, 12 April 2017

HUTAN KOTA UNESA, SEBUAH REKREASI


Rekreasi, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kata ini memiliki arti (1) penyegaran kembali badan dan pikiran; (2) sesuatu yang menggembirakan hati seperti hiburan, piknik. Kata ini sendiri berasal dari bahasa latin 're-creare' yang secara harfiah berarti 'membuat ulang'. Saya tak hendak menjadi ahli linguistik, namun sepertinya kata 're-crrare' termasuk dalam kelas kata verba atau kata kerja. Akan tetapi dalam KBBI kata rekreasi termasuk dalam kelas kata nomina atau kata benda. Saya sendiri lebih suka memasukkan kata rekreasi dalam kelas kata verba. Bukan karena saya punya argumen sendiri, tapi karena saya hendak bercerita.

Minggu pagi. Hari libur itu saya tidak ada rencana ke mana-mana. Setelah menghabiskan masakan sang istri, terbersit keinginan mengajak anak perempuan saya berjalan-jalan sekedar menghabiskan waktu. Tapi ke mana? Berkeliling saja tentu membosankan dan waktu tidak banyak yang 'habis' dengan hanya berkeliling.

Sambil mengajak keponakan perempuan yang usianya dua tahun lebih tua dari anak perempuan saya, kami pun meluncur ke jalan. Pertanyaan yang sama muncul kembali ketika kami sudah keluar dari kampung: pergi ke mana? Pergi ke mall yang menyediakan wahana permainan anak tidak mungkin karena ini minggu tua. Pergi ke taman kota sepertinya sudah terlalu sering.

Tiba-tiba saja muncul ide ke mana mengajak mereka liburan kali ini! Segera kendaraan kuluncurkan pulang lagi. Begitu tiba di rumah kupanggil istriku untuk mengambilkan dua buah kresek kecil. Hutan kota Unesa yang diresmikan oleh Gubernur Soekarwo pada april 2013 lalu itu sepertinya bisa menjadi ladang permainan bagi kedua bocah perempuan itu.

Sejauh pengetahuan yang saya dapat hutan kota itu dibangun untuk beberapa tujuan utama. Tujuan itu antara lain (1) memanfaatkan lahan kampus untuk penghijauan sebagai wahana konservasi, edukasi, dan rekreasi; (2) meningkatkan kesadaran civitas akademuka Unesa untuk melakukan penghijauan dan pelestarian lingkungan; (3) meningkatkan kecintaan dan kepedulian masyarakat sekitar terhadap pengjijauan dan pelestarian lingkungan; (4) memberikan kontribusi kepada Kota Surabaya tetkait dengan area hijau kota sebagai pelestarian lingkungan; dan (5) mendorong terciptanya pengetahuan dan ksadaran warga sekolah dalam upaya pelestarian lingkungan hidup menuju lingkungan yang sehat dan menghindari dampak lingkungan yang negatif. Sungguh, benar-benar tujuan yang mulia!

Begitulah kami meluncur, berbekal air minum dan makanan ringan kami, aku dan kedua bocah perempuan itu, akan menghabiskan waktu libur minggu kali ini.

Sampai di sana segera kubebaskan mereka. Meski hutan tidak begitu luas dan tidak banyak jenis bunga yang ada (bahkan terkesan tidak terawat karena rumput liar tumbuh di antara paving-paving jalan), yang paling penting adalah bagaimana bermain dengan wahana yang ada. Berbekal kantung kresek mereka saya ajak mengeksplorasi hutan kota Unesa sambil mengumpulkan bunga-bunga yang ada di sana.

Bagi saya rekreasi harus mengandung gerak 'aktif' di dalamnya. Dengan mengumpulkan aneka bunga, saya hendak melepaskan mereka dari rutinitas sekolah sehari-hari dan membiarkan imajinasi mereka berkembang lewat gerak mereka di antara alam.

Saya sendiri merasa saat ini banyak terjadi perubahan pada konsep rekreasi terhadap anak. Saya tak hendak menjadi ahli psikologi perkembangan anak, tapi melihat anak-anak diajak rekreasi ke wahana-wahana permainan yang ada di mall atau pun mengunjungi lokasi-lokasi wisata yang semarak dengan permainan anak, saya merasa ada yang kurang pas! Saya seolah melihat anak-anak itu berada di dalam mulut kapitalisme yang dingin. Mereka dimanjakan oleh permainan yang menggerakkan mereka dan didorong supaya berimajinasi. Sebaliknya, dengan mengajak kedua anak perempuan itu mengeksplorasi hutan kota Unesa, saya ingin mereka bergerak dan membangun imajinasi mereka sendiri.

Entah bagaimana saya mendapat gambaran tentang seorang anak yang berada dalam mulut kapitalisme. Mungkin karena belakangan ini berbagai tempat seperti mall atau pun lokasi wisata di luar kota gencar dipromosikan. Industri pariwisata telah berkembang sedemikian rupa hingga bisa dikatakan sangat memanjakan pengunjung. Modal yang telah terakumulasi dalam jumlah besar memang dapat menyulap sebuah tempat menjadi wahana rekreasi anak yang kaya akan permainan. Ruang kosong di antara stan-stan di mall disulap menjadi wahana permainan. Sasarannya adalah orang tua yang pergi berbelanja dengan anaknya. Mungkin konsepnya semacam: orang tua belanja, anak bermain. Dengan begitu dua sampai tiga pulau pun terkayuh. Pendeknya: sebanyak mungkin orang harus ikut menikmati wahana yang ditawarkan!

Begitu juga dengan lokasi-lokasi wisata di luar kota. Paket wisata tidak hanya untuk orang tua, tapi juga untuk anak-anak. Pengunjung harus dimanjakan sedemikian rupa. Dan karena sebagian besar pengunjung datang bersama anak-anak, maka anak-anak pun harus dimanjakan pula dengan berbagai wahana permainan. Dengan begitu orang tua tidak akan merasa berat merogoh kocek demi kegembiraan sang buah hatinya.

Tidak ada yang salah dengan itu. Toh setiap orang datang ke tempat yang diingini dengan berbagai pertimbangan yang sudah dilalui. Pilihan telah dijatuhkan. Hanya saja, bagi saya, dan sekali lagi bagi saya, kata 'rekreasi' yang mestinya bisa dikenakan pada kegiatan untuk bergerak menemukan imajinasi-imajinasi baru, menjadi sekedar hitungan matematis dalam angka statistik keuntungan yang dingin.

Hal ini juga berlaku pada konsep seperti wisata kuliner. Sekian ribu perut diperebutkan dalam industri makanan. Sekian ribu perut dijejali dengan informasi tentang berbagai jenis tempat yang menyediakan makanan khusus dengan nama-nama yang menggugah minat untuk mencicipinya. Sekian ribu perut dipaksa membeli makanan yang meski tak dibeli pun tidak akan membuatnya mati. Sekian ribu perut dijejali berbagai resep supaya mulutnya bisa berkomentar: "sudah pernah mencoba" ketika orang lain berkata tentang jenis makanan tertentu yang dijual.

Kembali pada petualangan di hutan kota. Begitulah. Saya mengawasi mereka dari belakang sambil sesekali mengarahkan ke mana mereka harus pergi. Bunga lavender, bougenvil, matahari, sampai putik rerumputan dan mahkota bunga dari putri malu masuk ke dalam kantung kresek masing-masing. Bahkan kami bertemu dengan penjala burung liar. Seekor burung derkuku dan dua ekor burung perkutut terperangkap dalam jala yang telah dipasang oleh penangkap burung. Ketika bertemu kami, dia telah mendapat lima ekor burung.

Lelah mengeksplorasi hutan kota yang terletak di seberang Fakultas Ilmu Pendidikan Unesa kami beristirahat di pendopo Fakultas Bahasa dan Seni. Di sana, karena melihat ada bunga-bunga lain, tak ayal mereka pun memasukkannya ke dalam kantung kresek masing-masing. Dan yang menjadi kejutan, siang itu mereka mendapat hadiah pertunjukan orkestra gratis dari mahasiswa yang tengah latihan.

Dua orang pemain selo dan orang pemain biola menggesek-gesek senar di siang yang gerimis itu. Meski baru tahap latihan, suara gesekan senar itu begitu rancak dan mendayu-dayu. Lumayan, paling tidak kedua bocah perempuan itu bisa melihat langsung pemain-pemain musik dengan alat yang mungkin pernah mereka lihat di televisi.


Tak terasa lewat pukul 2 siang. Waktunya makan siang dan tidur. Saya ajak mereka untuk pulang. Gerimis telah reda dan jalanan sedikit basah. Setelah tiba di rumah, saya meminta mereka supaya mencuci tangan dan kaki terlebih dahulu. Liburan minggu pagi pun usai.











.


Senin, 10 April 2017

SENTRA IKLAN BULAK, SEBUAH KUNJUNGAN

Sesuai janji pada postingan sebelumnya, kami pun berkunjung ke Sentra Ikan Bulak (SIB) yang terletak di pesisir pantai Kenjeran Surabaya. Sentra ikan yang menghabiskan anggaran sebesar 21 milyar ini diproyeksikan sebagai pusat penjualan makanan olahan hasil laut yang menjadi produk khas warga pesisir Surabaya, khususnya di sekitar SIB.

Terhitung, saat ini sudah lima tahun sejak bangunan berlantai dua ini diresmikan oleh Walikota pada tahun 2012 silam. Sayangnya, ketika kami berkunjung kondisi pasar masih sepi. Di lantai satu terdapat bedak-bedak yang kosong, baik di bagian olahan makanan basah mau pun olahan makanan kering. Begitu juga keadaan di lantai dua. Selain warung makanan yang ada pengunjungnya, stand-stand yang ada nampak kosong. Di beberapa stan nampak etalase-etalase berisi kerajinan dari kulit kerang dipajang namun tidak ada penjualnya. Entah sedang tutup atau ditinggal oleh penjualnya.
Kondisi ini tentu sangat disayangkan, mengingat negara telah menghabiskan 21 milyar untuk pembangunannya. Saya jadi bertanya, mengapa pedagang dan pembeli di sentra ikan ini sepi? Padahal Jembatan Suroboyo dan Taman Suroboyo yang digadang-gadang akan meramaikan SIB sudah rampung dibangun dan dikunjungi banyak orang. Atau apakah mungkin saya berkunjung di hari yang salah; misalnya saja saya harus berkunjung di hari senin atau rabu, bukan di hari sabtu...hhmm..

Barangkali kondisi ini disebabkan adanya pro dan kontra di antara para pedagang. Ada pedagang yang bersedia menempati stan di SIB. Namun ada juga pedagang yang menolak menempatinya. Masing-masing pedagang tentu memiliki alasan masing-masing.

Yang patut dicermati adalah hasil simpulan dari penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa Unesa atas kondisi ini. Dalam makalah yang berjudul "Partisipasi Pedagang dalam Pengembangan Sentra Ikan Bulak (SIB) Di Kecamatan Bulak Kota Surabaya" yang ditulis oleh Eka Novia Sari dan Muhammad Farid Ma'ruf menyebutkan :

"Partisipasi  dalam  pengambilan keputusan  ini terutama  berkaitan dengan  penentuan  alternatif dengan masyarakat  yang  bersangkutan  untuk menuju kata sepakat  tentang  berbagai gagasan yang menyangkut  kepentingan bersama  dalam  program pembangunan  yang  dilaksanakan.  Jika  teori  Cohen dan  Uphoff  (dalam  Dwiningrum,  2011:61-62) dikaitkan dengan  hasil  yang  diperoleh  peneliti di lapangan  menunjukkan  bahwa tidak  adanya keterlibatan  pedagang dalam  tahapan  partisipasi dalam pengambilan  keputusan  pada program pembangunan  SIB.  SIB  dibangun sesuai  dengan program  Walikota Surabaya  yaitu  Ibu  Tri Rismaharini. Pada  tahapan  ini,  pedagang  yang berdagang  di bahu  jalan  hanya diberikan  sosialisasi  dan pemindahan menuju  gedung  SIB  tanpa  diberikan kesempatan  untuk  memberikan  saran atau  usulan pada  program pembangunan  SIB.  Sehingga  masih banyak  pedagang  yang  tidak memahami  tujuan  dari dibangunnya SIB  karena  tidak  adanya  partisipasi pedagang  dalam  tahapan pengambilan keputusan. Akibatnya  hingga  saat program  pembangunan  SIB telah selesai  dilaksanakan,  masih  terdapat banyak permasalahan  dalam  proses pengembangannya  yaitu kurangnya partisipasi  pedagang  untuk  berdagang di SIB.  Contohnya  seperti  banyaknya pedagang  yang kembali  berdagang  di bahu  jalan  dan  enggan  untuk menempati  stan  yang  telah disediakan di SIB."

Hasil penelitian itu menunjukkan program pembangunan SIB cenderung berpola top down. Warga sebagai penerima manfaat tidak dilibatkan dalam pengambilan keputusan. Warga sebagai penerima manfaat hanya dilibatkan dalam proses sosialisasi saja. Padahal supaya program pembangunan berjalan dengan baik metode yang mestinya dilakukan adalah bottom up, di mana aspirasi dari bawah disaring kemudian dijadikan sebagai acuan dalam program pembangunan.

Persoalan lain yang juga menjadi kendala adalah keberadaan lokasi SIB yang sepertinya kurang strategis. Lokasi SIB yang berjauhan dengan tempat wisata kenjeran sepertinya kurang menguntungkan. Sebab wisatawan yang berkunjung ke pantai kenjeran harus melakukan perjalanan lagi untuk bisa mencapai lokasi SIB. Meski waktu tempuh yang dibutuhkan tidak lama hanya sekitar 5-10 menit, namun bukan tidak mungkin wisatawan enggan mengunjunginya. Sebab wisatawan yang sudah lelah, bisa jadi enggan mengunjungi SIB dan memilih membeli hasil olahan yang tersedia di sepanjang jalan menuju atau pulang dari tempat wisata kenjeran. Lokasi SIB yang tidak berada pada rute jalan utama Kenjeran yang menjadi akses utama bagi wisatawan menuju tempat wisata atau pun ketika pulang, menyebabkan pengunjung harus menyediakan waktu dan energi lebih banyak untuk menjangkaunya. Mungkin akan berbeda jika SIB berada dalam lokasi rute masuk kawasan wisata.

Hal ini harusnya mendapat perhatian dari Pemerintah. Dari segi pedagang sendiri keberadaan lokasi SIB yang jauh dari tempat tinggal dapat menyebabkan biaya pengeluaran menjadi lebih tinggi bila dibandingkan dengan berjualan yang lokasinya dekat dengan rumah. Selain berjualan mereka juga masih bisa mengurusi rumah tangga apabila diperlukan. Hal ini merupakan aspek sosial yang layak dijadikan pertimbangan. Akan berbeda halnya jika tempat berjualan berada di lokasi yang jauh dari rumah. Apalagi profesi sebagai pedagang hasil olahan ikan merupakan profesi yang disesuaikan dengan lokasi tempat tinggal sebagai basis produksi pedagang.

Sepertinya perlu dilakukan terobosan baru supaya SIB bisa menjadi primadona yang menjadi rujukan wisatawan. Misalnya saja dengan merubah akses masuk wisatawan dari luar melewati jalan Kedung Cowek (gagasan yang sepertinya tidak masuk akal). Bisa juga dengan memperkenalkan SIB melalui media sehingga makin banyak orang yang tertarik untuk mengunjunginya. Yang menjadi fokus adalah bagaimana mendatangkan calon pembeli ke SIB.

Dan yang tak kalah penting untuk diperhatikan adalah, jangan sampai pedagang yang menjadi korban. Hanya mengejar target stan SIB penuh tanpa menimbang sisi ekonomi dan sosial dari para pedagang bukanlah solusi yang tepat. Sebab bagi para pedagang, berjualan bukan hanya soal fasilitas yang bagus dan mahal. Yang paling utama bagi para pedagang adalah bagaimana menjangkau calon pembeli mereka sedekat dan seefektif mungkin. Seorang pedagang tentu akan memilih fasilitas yang dekat dengan calon pembeli ketimbang sebaliknya.

Keinginan para pedagang itu tentu harus diakomodir. Industri rakyat di bidang pengolahan hasil ikan telah berkembang di sana jauh sebelum SIB dibangun. Keberadaan mereka tentu telah melalui proses yang panjang. Mungkin tempat yang saat ini dipilih oleh para pedagang yang enggan pindah, merupakan tempat yang paling representatif bagi mereka.
Berbagai pertimbangan telah dilalui. Jangan sampai pembangunan SIB malah menjadikan para pedagang sebagai pihak yang dirugikan. Apalagi jika sampai dipertentangkan misalnya saja dengan pedagang lain dari Pabean.

Maka yang menjadi pekerjaan rumah rumah adalah bagaimana mendatangkan pengunjung ke SIB. Dan bukan bagaimana memaksa pedagang pindah ke SIB.


Sabtu, 08 April 2017

WAJAH KAMPUNG SURABAYA

Berdasarkan data statistik tahun 2010,  jumlah penduduk kota surabaya mencapai 2,7 juta jiwa. Jumlah sebanyak itu menempati ruang seluas lebih kurang 350,54 kilometer persegi. Dibandingkan dengan penduduk di wilayah lain, kepadatan kota Surabaya cukup tinggi. Seperti apa kondisi ruang seluas itu dihuni penduduk sebanyak 2,9 juta jiwa?
Siang itu kebetulan saya mengantar istri. Guru TK anak saya melahirkan. Ibu-ibu hendak menjenguk bunda yang baru saja melahirkan itu. Berombongan mereka berjalan kaki dari sekolah menuju rumah guru itu.
Rumah guru itu tidak jauh. Terletak di sebuah kampung di satu sudut kota Surabaya. Dari jalan besar kami memasuki gang besar. Dari gang besar itu kemudian kami masuk lagi ke dalam gang yang lebih kecil. Semula saya menduga rumahnya berhadapan langsung dengan jalan gang kedua itu. Tapi saya keliru. Dari gang kedua yang lebih kecil itu ternyata kami masih masuk lagi ke dalam gang lagi. Seperti bermain dalam labirin, pikir saya.
Guru itu tinggal di sebuah kamar sewa berasama suaminya. Sebuah kamar berukuran kurang lebih 4x5 m. Karena kamar itu hanya terdiri dari satu kotak saja, ruangan disekat dengan sebuah lemari. Jadilah sebuah ruang tamu di bagian depan dan kamar tidur sisanya. Dapat dibayangkan bagaimana kondisinya ketika orang tua murid-muridnya berkunjung.
Karena semua yang berkunjung ibu-ibu, saya menunggu di luar sambil mengamati sekeliling. Beberapa kamar tertutup pintunya. Mungkin penghuninya sedang bekerja. Sedang beberapa kamar lain nampak ada penghuninya. Ada juga yang sedang menerima tamu.
Dari luar nampak bahwa lantai rumah dibuat lebih tinggi dari jalan. Sepertinya untuk mengantisipasi banjir. Sedang di kamar yang lantainya sejajar dengan gang nampak penghuninya menyiapkan tanggul dari kayu di pintu yang bisa dibongkar pasang. Jika hujan turun deras daerah ini memang banjir meski air tidak menggenang lama.
Di luar juga nampak bagaimana para penghuni kamar sewa berusaha beradaptasi dengan ketersediaan ruang yang ada. Karena ruang di dalam telah terbagi menjadi ruang tamu dan kamar tidur, dapur mereka berada di luar. Mereka membuat sebuah kotak kayu untuk meletakkan kompor. Kotak kayu itu dibuka apabila mereka hendak memasak lalu menutupnya lagi jika kegiatan masak-memasak sudah selesai. Cara seperti ini sepertinya banyak ditemukan di kamar-kamar sewa yang bertebaran di Surabaya.
Saya berpikir, mungkin seperti inilah wajah kota seluas 350,54 kilometer persegi yang dihuni penduduk sebanyak 2,7 juta. Di satu sisi ada wilayah-wilayah dengan tingkat kerapatan yang rendah. Misalnya saja sebuah rumah dengan halaman yang ditinggali oleh dua atau tiga keluarga besar. Tapi di sisi lain di wilayah yang kerapatannya tinggi seperti di kampung-kampung, dengan luas yang sama tempat itu ditinggali oleh delapan sampai lima belas keluarga.

Jumat, 07 April 2017

GADIS KECIL



Gadis kecil itu lari ringan
Rentasi tepi duri pagar berkawat
Dengan sipu tipis senyum nan manis
Di seberang sana mobil-mobil melaju
Deru jalur cepat penidur kemudian
Jadikannya kenangan
Cerita tentang gadis kecil
Dengan sipu tipis senyum nan manis

Sepuluh tahun sesudahnya
Dia masih lari, dengan senyum tersipu, padaku
Begitu manis begitu tipis begitu persis gulali

Gadis kecil manis itu lari lewati gelap
Lintasi ruang di hadapanku
Dengan senyum tipis selimut gaib
Tapi lagi-lagi deru jalur cepat
Renggut raga kanak-kanak
Persis sepuluh tahun lalu dan sadar
Tahun-tahun lewat beri ingatan
Gelisah pada ketiadaan
Senyum dulu dan kini?!

Kucari sukma singa jantan penjaga
Siapa tahu abadikan ruh kanak-kanak
Takut sipu tipis senyum nan manis
Rentang renta

Ah! Andai ada ‘kan kukucup
Sebab pasti bukan gadis kecil
Dengan sipu tipis senyum nan manis
Persis gulali, padaku
Surabaya, tanpa tahun

Kamis, 06 April 2017

ASING

daging ini hitam
balut tulang-tulang kuning
arus aromanya pencar
padati sekitar

duh, tuan, sungguh
bukan kain disarungkan
pada hidung
tubuh telanjang ini
menggigil dingin

borok gerogoti kaki
heran juga
kian rakus saja
separuh tumit habis dilahap

duh, tuan, aku ingin pulang
tapi tinggal maut
sambut aku
asing selebihnya

mungkin sebentar lagi
terasa benar
darah ini kaku
sebelah aspal
tergeletak begitu saja
bagai bangkai binatang

oh, ada yang temu aku!
segala macam guman
di lidah dan dada
biar aku dengar
agar kota tak jadi saksi
kepulanganku sebentar lagi
Surabaya, 2016

DURYUDANA PAMIT

Biarkan aku mati sebelum engkau
Wahai, ibu tua dirundung gelap

Dewa-dewa bersekongkol di kayangan
Berkati kelahiran dengan amarah dan dendam
Tak ‘lah habis kebencian
Sekali pun dibagi
Sembilanpuluh sembilan rupa

Wahai, beri restumu padaku, ibu
Gada diayun pantang disurut
Pilihan tinggal menebas nyawa
Atau tersungkur di tanah

Angkatan perang tak berbilang
Hanya debu bagi betara titisan
Sang maharsi tua ‘kan letakkan beban
Di padang penghabisan nanti
Sedang sang guru ‘kan bersua saudara
Mereka pergi tinggal gelanggang
Bangun janji pernah terpatri
Dan mertua terkasih
Lebih dekat pada cucunya

Tersisa sang suryaputra di medan
Itu pun kalau dewa kayangan
Tidak datang pinta kematiannya

Tinggal aku sama berkat milikku
Amarah dan dendam pada siapa kutuju
Dewa-dewa kayangan
Putra-putra paman
Atau kelahiran?!
Surabaya, 2016

WISATA PESISIR KENJERAN


Berwisata tidak harus mengunjungi tempat yang jauh di luar kota. Apalagi sampai menghabiskan uang yang banyak. Surabaya sebagai kota pesisir memiliki pantai-pantai yang tak kalah menarik untuk dikunjungi. Salah satunya adalah pantai kenjeran.

Siang itu kebetulan hari libur. Kebetulan juga awan lembut menutupi langit dengan rata sehingga terik matahari tidak begitu menyengat di atas kota yang sejak zaman Sawunggaling terkenal panas ini. Kami, aku, istri, dan anakku, memutuskan untuk sekedar jalan-jalan. Dan karena cuaca tampak bersahabat kami memilih pergi ke pesisir. Sudah lama kami tidak pergi ke Kenjeran.

Tiga puluh menit perjalanan dari rumah kami pun sampai di daerah kenjeran. Rupanya sudah banyak yang berubah. Jalan-jalan menjadi lebih lebar. Dan yang lebih menakjubkan, sebuah jembatan di atas selat Madura menyambut kedatangan kami dengan gagah. Astaga, ini rupanya jembatan yang diresmikan oleh Walikota tahun lalu itu: Jembatan Surabaya. Sebuah jembatan di atas laut yang konon menghabiskan anggaran senilai 200M (saya ingin bilang: wow..!!!)

Jembatan ini bisa diakses dari kenjeran lama. Arus kendaraan dibuat searah dari arah kenjeran lama. Mungkin tujuannya agar para pengunjung dapat melihat kampung-kampung nelayan terlebih dulu sebelum menikmati jembatan. Entahlah.

Sayangnya tidak lama kami menikmati pemandangan selat dari jembatan. Lagipula karena cuaca mendung pulau Madura tertutup kabut sehingga tak nampak warna-warna hijaunya. Begitu juga dengan jembatan Suramadu, bersembunyi di antara titik-titik air. Apalagi ada anak perempuanku. Aku rasa kami akan cepat bosan jika hanya berada di sini. Bukan hanya pemandangan yang hendak kami cari, tapi juga sebuah permainan.

Kami pun lanjut turun menuju bagian lain pesisir. Sengaja kami tidak masuk ke dalam tempat wisata Kenjeran. Di sana terlalu ramai karena hari libur. Lagipula, pesisir kenjeran  cukup panjang dan luas, misalnya saja di Kawewe.

Begitulah kami terus berkendara dari jembatan Surabaya hingga mencapai Sentra Ikan Bulak. Di seberangnya terdapat sebuah taman yang menghadap laut. Nah, ini tempat yang pas untuk bermain-main. Murah dan menyenangkan, cukup bayar ongkos parkir saja kita sudah bisa menikmati pemandangan laut hehehe...

Kami sampai ketika mendung di langit bergeser. Matahari kembali unjuk gigi di sepanjang pesisir. Panas menyengat kulit. Meski begitu tak menghalangi kami, terutama anakku, untuk bermain-main. Hal pertama yang menyergapnya begitu menginjak pantai adalah: kulit kerang yang terhampar di atas pasir.

Dengan riang dia kumpulkan kulit-kulit kerang, mulai dari ukuran yang paling kecil hingga ukuran yang paling besar. Matahari pukul dua yang terik tak lagi diindahkan. Tangan kecilnya sibuk memunguti kulit kerang untuk dipindah ke dalam kantung kresek. Sementara itu, beberapa anak mandi di laut. Tak peduli apakah air di pesisir kota itu kotor atau tidak. Bagi anak-anak, permainan lebih penting dari sekedar kotor. Beberapa anak lelaki bahkan melakukan atraksi salto sebelum menceburkan dirinya ke dalam laut. Sayangnya kami tidak membawa baju sehingga anakku hanya bisa bermain air dari pinggir saja. Tapi tak urung basah juga baju yang dikenakannya karena terpeleset jatuh ke dalam air.

Di antara pengunjung yang hadir ada juga yang menikmati wisata pantai. Baik dalam rombongan atau pun dua sampai tiga orang saja. Mereka menyewa perahu nelayan untuk berlayar mengitari pesisir. Ada juga yang memancing atau sekedar duduk-duduk di atas tanggul batu sambil menikmati pemandangan laut dari tempat yang teduh.

Begitulah kami menghabiskan waktu siang itu. Menikmati pemandangan pesisir sambil bermain-main dengan alam. Ingin juga sebenarnya belanja di sentra ikan Bulak. Tapi hari sudah sore. Mungkin di lain waktu.