Jumat, 07 April 2017
GADIS KECIL
Gadis kecil itu lari ringan
Rentasi tepi duri pagar berkawat
Dengan sipu tipis senyum nan manis
Di seberang sana mobil-mobil melaju
Deru jalur cepat penidur kemudian
Jadikannya kenangan
Cerita tentang gadis kecil
Dengan sipu tipis senyum nan manis
Sepuluh tahun sesudahnya
Dia masih lari, dengan senyum tersipu, padaku
Begitu manis begitu tipis begitu persis gulali
Gadis kecil manis itu lari lewati gelap
Lintasi ruang di hadapanku
Dengan senyum tipis selimut gaib
Tapi lagi-lagi deru jalur cepat
Renggut raga kanak-kanak
Persis sepuluh tahun lalu dan sadar
Tahun-tahun lewat beri ingatan
Gelisah pada ketiadaan
Senyum dulu dan kini?!
Kucari sukma singa jantan penjaga
Siapa tahu abadikan ruh kanak-kanak
Takut sipu tipis senyum nan manis
Rentang renta
Ah! Andai ada ‘kan kukucup
Sebab pasti bukan gadis kecil
Dengan sipu tipis senyum nan manis
Persis gulali, padaku
Surabaya, tanpa tahun
Kamis, 06 April 2017
ASING
daging ini hitam
balut tulang-tulang kuning
arus aromanya pencar
padati sekitar
duh, tuan, sungguh
bukan kain disarungkan
pada hidung
tubuh telanjang ini
menggigil dingin
borok gerogoti kaki
heran juga
kian rakus saja
separuh tumit habis dilahap
duh, tuan, aku ingin pulang
tapi tinggal maut
sambut aku
asing selebihnya
mungkin sebentar lagi
terasa benar
darah ini kaku
sebelah aspal
tergeletak begitu saja
bagai bangkai binatang
oh, ada yang temu aku!
segala macam guman
di lidah dan dada
biar aku dengar
agar kota tak jadi saksi
kepulanganku sebentar lagi
balut tulang-tulang kuning
arus aromanya pencar
padati sekitar
duh, tuan, sungguh
bukan kain disarungkan
pada hidung
tubuh telanjang ini
menggigil dingin
borok gerogoti kaki
heran juga
kian rakus saja
separuh tumit habis dilahap
duh, tuan, aku ingin pulang
tapi tinggal maut
sambut aku
asing selebihnya
mungkin sebentar lagi
terasa benar
darah ini kaku
sebelah aspal
tergeletak begitu saja
bagai bangkai binatang
oh, ada yang temu aku!
segala macam guman
di lidah dan dada
biar aku dengar
agar kota tak jadi saksi
kepulanganku sebentar lagi
Surabaya, 2016
DURYUDANA PAMIT
Biarkan aku mati sebelum engkau
Wahai, ibu tua dirundung gelap
Dewa-dewa bersekongkol di kayangan
Berkati kelahiran dengan amarah dan dendam
Tak ‘lah habis kebencian
Sekali pun dibagi
Sembilanpuluh sembilan rupa
Wahai, beri restumu padaku, ibu
Gada diayun pantang disurut
Pilihan tinggal menebas nyawa
Atau tersungkur di tanah
Angkatan perang tak berbilang
Hanya debu bagi betara titisan
Sang maharsi tua ‘kan letakkan beban
Di padang penghabisan nanti
Sedang sang guru ‘kan bersua saudara
Mereka pergi tinggal gelanggang
Bangun janji pernah terpatri
Dan mertua terkasih
Lebih dekat pada cucunya
Tersisa sang suryaputra di medan
Itu pun kalau dewa kayangan
Tidak datang pinta kematiannya
Tinggal aku sama berkat milikku
Amarah dan dendam pada siapa kutuju
Dewa-dewa kayangan
Putra-putra paman
Atau kelahiran?!
Surabaya, 2016
Wahai, ibu tua dirundung gelap
Dewa-dewa bersekongkol di kayangan
Berkati kelahiran dengan amarah dan dendam
Tak ‘lah habis kebencian
Sekali pun dibagi
Sembilanpuluh sembilan rupa
Wahai, beri restumu padaku, ibu
Gada diayun pantang disurut
Pilihan tinggal menebas nyawa
Atau tersungkur di tanah
Angkatan perang tak berbilang
Hanya debu bagi betara titisan
Sang maharsi tua ‘kan letakkan beban
Di padang penghabisan nanti
Sedang sang guru ‘kan bersua saudara
Mereka pergi tinggal gelanggang
Bangun janji pernah terpatri
Dan mertua terkasih
Lebih dekat pada cucunya
Tersisa sang suryaputra di medan
Itu pun kalau dewa kayangan
Tidak datang pinta kematiannya
Tinggal aku sama berkat milikku
Amarah dan dendam pada siapa kutuju
Dewa-dewa kayangan
Putra-putra paman
Atau kelahiran?!
Surabaya, 2016
WISATA PESISIR KENJERAN
Siang itu kebetulan hari libur. Kebetulan juga awan lembut menutupi langit dengan rata sehingga terik matahari tidak begitu menyengat di atas kota yang sejak zaman Sawunggaling terkenal panas ini. Kami, aku, istri, dan anakku, memutuskan untuk sekedar jalan-jalan. Dan karena cuaca tampak bersahabat kami memilih pergi ke pesisir. Sudah lama kami tidak pergi ke Kenjeran.
Tiga puluh menit perjalanan dari rumah kami pun sampai di daerah kenjeran. Rupanya sudah banyak yang berubah. Jalan-jalan menjadi lebih lebar. Dan yang lebih menakjubkan, sebuah jembatan di atas selat Madura menyambut kedatangan kami dengan gagah. Astaga, ini rupanya jembatan yang diresmikan oleh Walikota tahun lalu itu: Jembatan Surabaya. Sebuah jembatan di atas laut yang konon menghabiskan anggaran senilai 200M (saya ingin bilang: wow..!!!)
Jembatan ini bisa diakses dari kenjeran lama. Arus kendaraan dibuat searah dari arah kenjeran lama. Mungkin tujuannya agar para pengunjung dapat melihat kampung-kampung nelayan terlebih dulu sebelum menikmati jembatan. Entahlah.
Sayangnya tidak lama kami menikmati pemandangan selat dari jembatan. Lagipula karena cuaca mendung pulau Madura tertutup kabut sehingga tak nampak warna-warna hijaunya. Begitu juga dengan jembatan Suramadu, bersembunyi di antara titik-titik air. Apalagi ada anak perempuanku. Aku rasa kami akan cepat bosan jika hanya berada di sini. Bukan hanya pemandangan yang hendak kami cari, tapi juga sebuah permainan.
Kami pun lanjut turun menuju bagian lain pesisir. Sengaja kami tidak masuk ke dalam tempat wisata Kenjeran. Di sana terlalu ramai karena hari libur. Lagipula, pesisir kenjeran cukup panjang dan luas, misalnya saja di Kawewe.
Begitulah kami terus berkendara dari jembatan Surabaya hingga mencapai Sentra Ikan Bulak. Di seberangnya terdapat sebuah taman yang menghadap laut. Nah, ini tempat yang pas untuk bermain-main. Murah dan menyenangkan, cukup bayar ongkos parkir saja kita sudah bisa menikmati pemandangan laut hehehe...
Kami sampai ketika mendung di langit bergeser. Matahari kembali unjuk gigi di sepanjang pesisir. Panas menyengat kulit. Meski begitu tak menghalangi kami, terutama anakku, untuk bermain-main. Hal pertama yang menyergapnya begitu menginjak pantai adalah: kulit kerang yang terhampar di atas pasir.
Dengan riang dia kumpulkan kulit-kulit kerang, mulai dari ukuran yang paling kecil hingga ukuran yang paling besar. Matahari pukul dua yang terik tak lagi diindahkan. Tangan kecilnya sibuk memunguti kulit kerang untuk dipindah ke dalam kantung kresek. Sementara itu, beberapa anak mandi di laut. Tak peduli apakah air di pesisir kota itu kotor atau tidak. Bagi anak-anak, permainan lebih penting dari sekedar kotor. Beberapa anak lelaki bahkan melakukan atraksi salto sebelum menceburkan dirinya ke dalam laut. Sayangnya kami tidak membawa baju sehingga anakku hanya bisa bermain air dari pinggir saja. Tapi tak urung basah juga baju yang dikenakannya karena terpeleset jatuh ke dalam air.
Di antara pengunjung yang hadir ada juga yang menikmati wisata pantai. Baik dalam rombongan atau pun dua sampai tiga orang saja. Mereka menyewa perahu nelayan untuk berlayar mengitari pesisir. Ada juga yang memancing atau sekedar duduk-duduk di atas tanggul batu sambil menikmati pemandangan laut dari tempat yang teduh.
Begitulah kami menghabiskan waktu siang itu. Menikmati pemandangan pesisir sambil bermain-main dengan alam. Ingin juga sebenarnya belanja di sentra ikan Bulak. Tapi hari sudah sore. Mungkin di lain waktu.
SEBELUM TENGAH MALAM
Mari sejenak duduk bercakap
Minta segelas kopi
Sebatang rokok
Nyalakan
Malam berhujan usai
Harum udara teman jalan
Satu hari bakal lewat
Cukup layak rayakan
Mari, mari kita bercakap
Setengah kilo beras tersimpan
Cukup buat esok
Anak belum lagi sekolah
Pikir saja dirimu
Cari kerja
Hasilkan uang
Pejabat di tempat basah
Tak ‘sah kau cibir
Berita tentang negara korup
Tentang manusia penghisap pajak
Lalu tiupkan asap
Ke muka kita
Tentang lelaki mati
Di tengah limpahan pasir
Untuk apa ditimbang!
Di jauh sana lelaki–perempuan
Habiskan banyak uang
Untuk gelas-gelas anggur
Di tempat yang malu kita datangi
Bahkan meski hanya di terasnya saja
Uang siapa yang dirampoknya!
Mari, ayolah, mari
Perlahan kita binasa
Dengan kopi dan rokok
Dan lembap udara malam
Racuni dada dan darah
Dan esok dapatkan uang
Sebelum butir terakhir beras habis
Surabaya, 2016
Rabu, 05 April 2017
PEDAS SEPEDAS-PEDASNYA
Sehabis makan keringat Cak Oerip bercucuran. Dia tuang air banyak-banyak ke dalam gelas. Sambal bawang buatan Yu Nipah, istrinya, memang luar biasa pedas. Tapi yang tak kalah pedas adalah omelan Yu Nipah karena Cak Oerip menghabiskan sambal hampir separuh cobek.
“Dasar!” omel Yu Nipah. “Apa tidak tahu harga cabai seperti harga emas. Masak sambal satu cobek dihabiskan sendiri.”
Cak Oerip terkekeh sambil menghabiskan minumnya. Rasa pedas masih melumuri mulutnya. Sedang sisa ikan asin yang menjadi lauknya tadi, asyik bersembunyi di sela-sela gigi.
“Sekali-kali, Yu, makan makanan mewah. Makanan mewah tidak hanya direstoran-restoran saja. Sepiring nasi dengan lauk ikan asin dan sambal bawang buatanmu juga termasuk mewah. Apalagi rasa pedasnya tidak hanyal di mulut, tapi juga di telinga. Rasanya benar-benar pedas sepedas-pedasnya,”celoteh Cak Oerip sambil tertawa.
Keluhan Yu Nipah memang beralasan. Pada hari-hari belakangan, boleh dibilang sambal menjadi hidangan yang mewah. Mewahnya sambal belakangan bukan karena ditemukan resep baru di bidang persambalan. Atau ditemukan varietas baru yang hanya dengan satu biji cabai pedasnya setara sepuluh biji cabai. Tapi karena langkanya cabai sebagai bahan baku utama pembuatan sambal.
Kelangkaan ini menjadi pemicu naiknya harga cabai. Di pasar harga cabai telah naik mencapai harga 100 ribu rupiah per kilogram. Bahkan di beberapa daerah melebihi 100 ribu rupiah per kilogram. Sungguh, kenaikan yang tajam dibandingkan dengan kenaikan BBM non-subsidi. Apalagi dengan upah Cak Oerip sebagai tukang, kenaikan harga cabai seperti melesat menuju angkasa.
Tapi meski harga cabai melambung, cabai tetaplah cabai. Keberadaannya dalam setiap masakan hampir mirip dengan garam, selalu diperlukan. Untuk beberapa jenis masakan, cabai dijadikan sambal untuk menjadi pendamping. Sedang pada beberapa jenis masakan lain, cabai menjadi bagian dari resep masakan. Bahkan dalam jenis makanan tertentu, cabai yang diolah menjadi sambal disajikan sebagai menu utama.
Industri makanan pun tidak bisa dipisahkan dari keberadaan cabai. Makanan seperti bakso, mie ayam, siomay, batagor, atau pun makanan sejenis lainnya selalu menyediakan sambal. Juga nasi goreng, cap jay, bihun, dan masakan sejenisnya selalu menyertakan cabai sebagai pelengkap hidangan. Tak ketinggalan pula makanan seperti soto, rawon, kare, krengsengan, dan sebagainya memerlukan sambal sebagai pendamping. Apalagi makanan seperti sari laut, bebek goreng, ayam goreng, tempe penyet, malah menjadikan sambal sebagai sajian utamanya.
Bahkan rasa pedas dari cabai dijadikan sebagai media promosi yang digunakan untuk menarik minat pembeli untuk mencoba makanan yang ditawarkan. Sambal yang pedas menjadi semacam duta iklan agar orang menjadi penasaran untuk mencicipinya. Nama-nama seperti sambal setan, sambal bledhek, menjadi contoh betapa bisnis rasa pedas cukup diminati pada industri makanan.
Tak ingin ketinggalan, industri makanan berskala besar juga terjun dalam bisnis persambalan. Makanan praktis dan cepat saji menjadi favorit dalam pola kehidupan zaman yang serba cepat ini. Jika orang dulu harus bersusah payah agar dapat menikmati sambal. Sekarang tidak lagi.
Kini di toko-toko telah tersedia berbagai macam sambal dalam kemasan sachet. Praktis, irit, dan bisa dibawa ke mana-mana. Rasanya pun tak kalah dengan sambal buatan Yu Nipah. Hanya saja, Cak Oerip lebih suka sambal buatan istrinya itu dibanding sambal-sambal buatan pabrik. Omelan yang mungkin terlontar dari mulut Yu Nipah, memiliki sensasi pedas yang tak dapat dicari tandingannya.
Geliat bisnis di bidang sambal ini tentu sangat tergantung pada ketersediaan cabai sebagai bahan baku utama. Indonesia sebagai Negara agraris tentu memiliki jumlah persediaan yang melimpah untuk cabai. Jenis-jenis makanan yang ada di Nusantara tentu dipengaruhi oleh berbagai macam rempah-rempah yang tersedia di Nusantara.
Tapi tidak demikian yang terjadi belakangan ini. Persediaan cabai cukup langka. Kondisi cuaca menjadi factor penyebab kelangkaan cabai. Curah hujan yang tinggi di penghujung tahun menyebabkan panen terganggu. Di beberapa daerah petani gagal panen. Sedang di daerah lain petani memanen cabainya terlalu dini untuk menghindari kerusakan dan gagal panen. Akibatnya cabai yang semestinya dipanen sekitar pergantian tahun mengalami penurunan. Sehingga suplai cabai menjadi langka pada bulan-bulan itu.
Kelangkaan cabai ini memunculkan opsi untuk mendatangkan cabai dari daerah lain. Agar harga tidak semakin naik, dirasa perlu untuk menjaga ketersediaan stok. Bahkan untuk mengantisipasi kelangkaan cabai, juga muncul opsi untuk mengimpor cabai dari luar negeri. Meski pemerintah pusat menginstruksikan agar tidak dilakukan import cabai.
Kondisi seperti ini perlu mendapat perhatian serius. Sebab tidak Sekali ini saja harga cabai melambung tinggi. Meski lonjakannya berlangsung dalam waktu yang relatif singkat, namun tetap saja memprihatinkan.
Akibat tidak stabilnya harga, bukan tidak mungkin akan menyebabkan terjadinya import cabai. Kondisi yang saat ini terjadi, menunjukkan bahwa produksi dalam negeri tidak mampu mencukupi kebutuhan cabai yang tinggi. Sebab bukan hanya industri makanan skala kecil seperti warung dan restoran saja yang membutuhkan cabai sebagai bahan bakunya. Industri pengolahan makanan berskala besar juga tidak sedikit yang menjadikan cabai sebagai bahan produksinya.
Jika terjadi permintaan yang demikian besar sedang produksi dalam negeri tidak mencukupi, import menjadi opsi yang bisa dipilih. Di satu sisi import membantu menstabilkan harga ketika terjadi kelangkaan cabai di dalam negeri. Di sisi lain, petani cabai akan menghadapi tantangan yang berat.
Sebab harga cabai yang didatangkan dari luar negeri seperti, misalnya saja Myanmar, ternyata harganya tidak terpaut jauh dengan harga cabai yang didatangkan dari misalnya saja Bojonegoro. Apalagi masyarakat masih begitu keranjingan dengan sesuatu yang berbau import. Bukan tidak mungkin produk cabai lokal akan kalah di pasaran.
Rasa pedas di mulut Cak Oerip seketika lenyap memikirkan hal ini. Cak Oerip berpikir, “Jangan-jangan sambal yang dimakannya tadi cabai-cabainya berasal dari luar negeri.”
Cak Oerip tersenyum. Seandainya benar cabai-cabai itu diimpor dari luar negeri berarti makan malamnya kali ini benar-benar mewah. Sementara itu pada saat yang bersamaan dia menyayangkan semakin sempitnya lahan pertanian. Penyempitan lahan pertanian yang produktif harus diimbangi dengan pembukaan lahan-lahan baru. Tanah-tanah guntai atau pun tanah-tanah terlantar harus difungsikan sebagai lahan produktif.
Tanah-tanah terlantar yang tidak dimanfaatkan dalam kurun waktu yang lama perlu diurus. Sebab di sisi lain kebutuhan akan tanah sangat mendesak. Membiarkan tanah-tanah terlantar sama dengan menyia-nyiakan segala hal yang mungkin bisa tumbuh dari kesuburan tanahnya. “Siapa tahu di atas tanah-tanah itu bias ditanami cabai. Sebagai cadangan pasokan cabai dalam negeri,” celoteh Cak Oerip.
Perkembangan industri dan bertambahnya pemukiman merupakan keniscayaan yang tidak dapat dihindari. Dan semua itu memerlukan tanah sebagai ruang untuk berpijak. Padahal luas tanah tidak mungkin bertambah.
Kembali ke persoalan rasa pedas. Kondisi cuaca yang tak menentu sebenarnya merupakan tantangan di bidang pertanian, khususnya penanaman cabai. Curah hujan yang tinggi, terganggunya proses fotosintesis, serta tingkat kelembapan tanah yang tinggi, merupakan tantangan yang harus dijawab.
Sepertinya perlu dikembangkan varietas cabai yang baru. Selain harus tahan terhadap serangan hama, tanaman cabai juga harus tahan terhadap anomali cuaca. Dan yang paling penting, cabai harus tahan terhadap lonjakan harga.
Surabaya, january 2017
LELAKI MATI
Karena dunia enggan mengingatkan
Dia tinju rahang
Dengan tangan sendiri
Juga dahi
Dan pelipis
Muka kian lebam
Padam membiru
Mulutnya bicara
Cepat-lirih
Sebelum ayun tinju lagi
Siapa sudi gapai
Lengan itu rindu kawan jabat
Terlalu lama telapak kering
Arungi kota yang tiada mengenal
Lalu pulang kembali
Di sebuah kolong jembatan
Suatu sudut kota
Di sana beralas arus hitam
Lambungnya mengerut
Disesap asam perut
Kulitnya kering
Seolah potongan besi
Padat karat
Hingga sum-sum
Siapa sudi doa
Jika jasadnya nanti dikubur tanah
Siapa sudi kenang
Jika sosoknya tak lagi ada
Dunia kian gempita
Baringkan tubuhnya
Di sudut sunyi kota
Jauh sesudah meninggalnya
Masih kulihat ayunan tinju
Di jalan-jalan kota
Atas muka yang makin pucat
Dan beku
Dia tinju rahang
Dengan tangan sendiri
Juga dahi
Dan pelipis
Muka kian lebam
Padam membiru
Mulutnya bicara
Cepat-lirih
Sebelum ayun tinju lagi
Siapa sudi gapai
Lengan itu rindu kawan jabat
Terlalu lama telapak kering
Arungi kota yang tiada mengenal
Lalu pulang kembali
Di sebuah kolong jembatan
Suatu sudut kota
Di sana beralas arus hitam
Lambungnya mengerut
Disesap asam perut
Kulitnya kering
Seolah potongan besi
Padat karat
Hingga sum-sum
Siapa sudi doa
Jika jasadnya nanti dikubur tanah
Siapa sudi kenang
Jika sosoknya tak lagi ada
Dunia kian gempita
Baringkan tubuhnya
Di sudut sunyi kota
Jauh sesudah meninggalnya
Masih kulihat ayunan tinju
Di jalan-jalan kota
Atas muka yang makin pucat
Dan beku
Langganan:
Postingan (Atom)


