Aktualitas
merupakan salah satu aspek yang menyebabkan karya sastra tetap menarik meski
dibaca berulang-ulang. Dari khasanah sastra dunia berderet penulis yang
karya-karyanya terus menerus dicetak dan dibaca oleh penggemar sastra dunia.
Dari kesusastraan Rusia misalnya, terdapat tokoh-tokoh sekelas Chekov, Gogol,
Dostoyevsky, Tolstoy, Gorky, atau pun Solyetshin. Di Indonesia karya-karya
mereka berkali-kali dicetak. Dan masih banyak lagi nama dari khasanah sastra
dunia yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan telah dicetak
ulang.
Dari
sejarah sastra Indonesia sendiri pada masa kolonial telah hadir karya anak
bangsa seperti Mas Marco Kartodikromo dengan novelnya Student Hidjo. Atau kalau
kita mau menyebut Multatuli dengan novelnya Max Havelaar. Lalu dilanjutkan
dengan karya-karya angkatan pujangga baru, angkatan 45, angkatan 66, sampai
saat ini.
Meski
masing-masing karya menampilkan latar belakang zaman dan kondisi sosial-budaya
yang berbeda-beda namun ada unsur yang tetap hangat dan aktual jika kita
membacanya saat ini. Membaca karya-karya Dostoyevsky misalnya, meski kondisi
sosial-budaya yang menjadi latar belakang adalah Rusia abad 19, namun persoalan
humanisme dan psikologis tokoh-tokohnya masih memukau sampai sekarang. “Apa
gunanya kehormatan, teman, bila kamu tidak punya apa-apa untuk dimakan, uang,
sayangku, uang adalah yan pokok; itulah yang harus kamu syukuri kepada Tuhan!”
tulis Dostoyevsky dalam novelnya yang berjudul Orang-orang Malang. Atau karya
Tolstoy yang berjudul Kebangkitan, menampilkan seorang tokoh yang rela
mengembara ke Siberia untuk menebus kesalahan-kesalahan di masa lalu.
Sebagai
sebuah produk sosial sastra memiliki kecenderungan menampilkan semangat
zamannya. Dari sudut pandang ini sastra dinilai bukan sekedar permainan
imajinasi yang bersifat pribadi, tetapi merupakan rekaman tata cara zamannya. Penulis
sebagai bagian dari kehidupan sosial zamannya merefleksikan kembali pengalaman-pengalamannya
melalui sastra dengan tujuan agar terjadi interaksi dengan pembacanya. Lewat
interaksi dengan pembaca sangat mungkin penulis mengajak pembacanya untuk
mengkritisi kembali keadaan sosial yang melingkupinya. Kemiskinan,
ketidakadilan, penindasan, nilai-nilai kebenaran, kecurangan, sering menjadi
ide sentral dalam karya sastra. Bahkan bukan tidak mungkin sastra menjadi sarana
perjuangan kelas.
Dalam
konteks yang lebih luas sastra dapat dipandang sebagai sarana kritik sosial. Hal
ini berkaitan dengan aspek referensial dalam pendekatan sebuah karya sastra.
Aspek ini berkaitan dengan acuan karya sastra dan hubungannya dengan dunia
nyata. Tokoh Minke dalam tetralogi Bumi Manusia karya Pramodya misalnya,
dikaitkan dengan sosok yang hidup dalam sejarah yaitu Tirto Adhi Soerjo. Begitu
juga dengan novel-novel berlatar belakang sejarah. Kehidupan di masa lampau
digambarkan kembali dan dikritisi dengan maksud untuk mengkritik kehidupan
sosial di mana penulis berada.
Meski
demikian sastra juga harus dipandang sebagai sebuah struktur otonom yang
berdiri sendiri. Sekalipun sebuah karya sastra menggambarkan situasi sosial
tertentu dengan sangat tepat dan akurat, waktu, tempat dan sebagainya, namun
sastra tetap harus dipahami sebagai sebuah karya fiksi yang tidak memiliki
keterkaitan dengan dunia di luar dirinya. Tidak bisa dilakukan penelitian
sejarah dengan mengacu pada karya sastra meski informasi yang terdapat di
dalamnya sangat membantu penelitian sejarah. Sebab sejarah hanya menggambarkan
fakta-fakta kaku. Tokoh, waktu, tempat, dan peristiwa dalam sejarah digambarkan
tanpa menyertai bagaimana pelaku sejarah sebagai subjek memahami waktu, tempat,
dan peristiwa itu dalam kesadarannya. Begitu juga hubungan subjek tersebut
dengan subjek lain karena dalam peristiwa sejarah seorang tokoh pada dasarnya
tinggal dan hidup bersama subjek-subjek lain selain dirinya. Pada titik inilah
sastra mengambil peranan.
Kehidupan
subjek yang dinamis dapat terekam dalam karya sastra. Bahkan nilai-nilai yang
mendasari perubahan sikap subjek dapat tergambar dengan jelas. Dalam tulisan
formal tidak mungkin seseorang menulis seperti: “Dan akan kulontarkan lagu-lagu
perang pengasah kelewang ke dalam sanubari pejuang-pejuang syahid, yang telah
aku janjikan pertolongan, aku, Multatuli.” Tapi dalam sastra luapan emosi
seperti itu mungkin dilakukan karena fiksionalitas dalam sastra memiliki ruang
untuk menggambarkan manusia sampai ke lubuk tergelapnya.
Namun
karya sastra tetaplah karya sastra. Sekalipun pembaca tergugah oleh kritik
sosial yang dihadirkan, sebuah karya sastra tetaplah cerita fiksi yang ditulis
oleh pengarang dengan imajinasinya. Penulisnya mungkin bermaksud untuk
menyajikan sebuah hiburan yang bermakna sambil mengajak pembaca untuk mensikapi
kondisi sosial yang digambarkan dalam karya sastra. Dan khusus mengenai hiburan,
mungkin banyak hiburan lain yang lebih menarik ketimbang membaca novel yang
tebal atau cerpen atau puisi. Tapi untuk kali ini bolehlah penulis menyarankan
untuk membaca sastra.
Dalam
khasanah sastra Indonesia nama Ahmad Tohari mendapat tempat tersendiri di
kalangan peminat sastra. Tokoh-tokoh dalam tulisannya menggambarkan
manusia-manusia sederhana. Lasiyah istri Darsa yang lari dari desa dan menjadi
simpanan lelaki tua kaya raya di kota, Pambudi yang dimusuhi oleh perangkat
pemerintah desa karena berebut kembang desa, atau tokoh-tokoh lain dalam novel
seperti Kubah, trilogi Ronggeng Dukuh Paruk, atau pun kumpulan cerpen Senyum
Karyamin. Mereka adalah tokoh-tokoh yang hidup di tengah-tengah ketimpangan
sosial yang melanda pelosok-pelosok desa dan rakyat miskin.
Salah
satu karya Ahmad Tohari yang layak untuk dinikmati adalah novelnya yang
berjudul “Orang-orang Proyek”. Novel ini mengisahkan proses pembangunan proyek
jembatan sungai Cibawor pada masa Orde Baru. Seorang insinyur bernama Kabul
yang pada saat kuliah merupakan seorang aktivis menjadi Protagonis utama dalam
kisah ini. Halaman demi halaman tersaji pergulatan batin Kabul, baik yang
berkaitan dengan proyek mau pun yang berkaitan dengan Wati, petugas
administrasi yang kelak akan menjadi Nyonya Kabul.
Bukan
tanpa tujuan Ahmad Tohari menciptakan tokoh insinyur berlatar belakang aktivis.
Kontras sudah ditunjukan sejak awal. Mungkin kita akan bertanya, apa hubungan
insinyur dengan aktivis? Hubungan inilah yang menjadi sebab pergolakan batin
Kabul. Protagonis lain yang juga berlatar belakang aktivis adalah kepala desa
bernama Basar yang merupakan rekan satu kampus Kabul. Dua orang tokoh sesama
berlatar belakang aktivis, satu menjadi perangkat pemerintah yang lain menjadi
aparatur pembangunan. Jabatan yang seharusnya dapat mewadahi idealisme mereka
sebagai aktivis sehingga dapat memajukan dan mensejahterakan rakyat.
Tapi
tidak demikian dalam novel itu. Sebagai Kepala Desa Basar harus berhadapan
dengan kenyataan bahwa “sistem kekuasaan di bawah (partai) Golongan Lestari
Menang, GLM, menempatkan jajaran perangkat desa dan kelurahan seluruh Indonesia
menjadi onderbouw mereka” (Tohari,
2007:84). Dan kebetulan di wilayahnya sedang berlangsung proyek pembangunan
jembatan yang dipimpin oleh rekan sesama aktivis sewaktu di kampus, Kabul.
“Di
wilayah desa yang Anda pimpin, kini ada proyek besar. Pelaksananya adalah
kontraktor yang dulu kita menangkan dalam lelang pekerjaan. Jadi, mereka sudah
tahu apa kewajiban mereka terhadap kita. Mereka akan memperbantukan truk-truk
dan kendaraan lain untuk mengangkut massa datang ke lokasi upacara HUT...”
ungkap salah seorang tokoh GLM kepada Basar.
“Ya,
itu pun akan menjadi bagian orang-orang proyek (pengaspalan jalan, red). Mereka juga akan memindahkan generator,
menyiapkan corong-corong, podium, dan mengurus pembiayaan perjalanan Ketua Umum
dan para Pengawalnya. Nah, sekarang, Saudara Kades, apa yang ingin saudara
sampaikan kepada kami?” tanya tokoh GLM yang lain masih kepada Basar.
Anggaran
proyek pembangunan jembatan yang semestinya digunakan untuk pengadaan material
rupanya harus disunat untuk
kepentingan partai GLM ini. Bukan hanya itu, penyunatan juga terjadi untuk
biaya pembangunan masjid yang dilabeli dengan renovasi.
“Sebagai
ketua panitia renovasi masjid, Baldun mengajukan surat permohonan bantuan
kepada pelaksana proyek. Bantuan yang diminta diharapkan berupa uang serta
material bangunan, terutama besi beton dan semen. Kabul membaca surat
permohonan bantuan yang disodorkan Baldun. Lampirannya lengkap. Dalam susunan
kepanitiaan, Kades Basar jadi salah seorang Pelindung. Gambar bangunannya juga
lengkap dan baik. Ternyata rencana itu bukan sekadar renovasi, melainkan
pembangunan kembali sebuah masjid dan ukurannya diperbesar.
Rekomendasi-rekomendasi. Sudah ada disposisi dan pembuatnya manajer proyek, Ir
Dalkijo. Kepala Kabul mulai terasa pening.” (Tohari, 2007:138)
Pada
halaman lain disebutkan, “Dalam banyak kasus rusaknya jembatan-jembatan baru,
Kabul terkesan oleh suara-suara yang muncul di tengah masyarakat. Banyak orang
percaya, jembatan atau bangunan sipil lainnya sengaja dibuat di bawah baku
mutu, sehingga cepat rusak. Dengan demikian, cepat pula datangnya pekerjaan
baru buat perbaikan jembatan atau lainnya, akan tercipta peluang ngobyek bagi pejabat terkait,” (Tohari,
2007:148)
Kabul
memilih mengundurkan diri sebagai pelaksana proyek. Idealisme yang dimilikinya
menuntut untuk tidak terlibat lebih jauh lagi dalam proyek pembangunan
jembatan. Dan pada akhirnya jembatan yang mutu bakunya rendah itu rusak. Tohari
menulis, “Jembatan Cibawor sudah kelihatan. Tampak mangkrak dan kesepian. Kegagahan yang dulu sempat tampak kini
hilang. Dan begitu turun dari mobil di mulut jembatan, Kabul segera tahu bagian
mana yang rusak. Lantai jebol pada dua titik dan aspal sudah retak hampir
sepanjang lantai jembatan.” (Tohari, 2007:217)
Demikian
akhir novel bertitimangsa April-Mei 2001 itu. Lewat tulisannya yang berlatar
belakang pekerjaan proyek di masa orde baru ini, Ahmad Tohari mencoba
mengkritisi pelaksanaan proyek di mana berbagai kepentingan di luar proyek
turut terlibat dalam penggunaan anggaran proyek. Alhasil jembatan yang dibangun
tidak bertahan lama karena material yang digunakan harus disesuaikan dengan
anggaran yang telah dipangkas. Pertanyaan yang menyeruak sesudah membaca novel
ini adalah, apakah topik yang dikemukakan Ahmad Tohari dalam novel Orang-orang
Proyek masih tetap aktual saat ini?
Surabaya, 27 Desember 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar