Jumat, 04 Mei 2018

AKTUALITAS DALAM KARYA SASTRA


 
Aktualitas merupakan salah satu aspek yang menyebabkan karya sastra tetap menarik meski dibaca berulang-ulang. Dari khasanah sastra dunia berderet penulis yang karya-karyanya terus menerus dicetak dan dibaca oleh penggemar sastra dunia. Dari kesusastraan Rusia misalnya, terdapat tokoh-tokoh sekelas Chekov, Gogol, Dostoyevsky, Tolstoy, Gorky, atau pun Solyetshin. Di Indonesia karya-karya mereka berkali-kali dicetak. Dan masih banyak lagi nama dari khasanah sastra dunia yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan telah dicetak ulang.

Dari sejarah sastra Indonesia sendiri pada masa kolonial telah hadir karya anak bangsa seperti Mas Marco Kartodikromo dengan novelnya Student Hidjo. Atau kalau kita mau menyebut Multatuli dengan novelnya Max Havelaar. Lalu dilanjutkan dengan karya-karya angkatan pujangga baru, angkatan 45, angkatan 66, sampai saat ini.

Meski masing-masing karya menampilkan latar belakang zaman dan kondisi sosial-budaya yang berbeda-beda namun ada unsur yang tetap hangat dan aktual jika kita membacanya saat ini. Membaca karya-karya Dostoyevsky misalnya, meski kondisi sosial-budaya yang menjadi latar belakang adalah Rusia abad 19, namun persoalan humanisme dan psikologis tokoh-tokohnya masih memukau sampai sekarang. “Apa gunanya kehormatan, teman, bila kamu tidak punya apa-apa untuk dimakan, uang, sayangku, uang adalah yan pokok; itulah yang harus kamu syukuri kepada Tuhan!” tulis Dostoyevsky dalam novelnya yang berjudul Orang-orang Malang. Atau karya Tolstoy yang berjudul Kebangkitan, menampilkan seorang tokoh yang rela mengembara ke Siberia untuk menebus kesalahan-kesalahan di masa lalu.

Sebagai sebuah produk sosial sastra memiliki kecenderungan menampilkan semangat zamannya. Dari sudut pandang ini sastra dinilai bukan sekedar permainan imajinasi yang bersifat pribadi, tetapi merupakan rekaman tata cara zamannya. Penulis sebagai bagian dari kehidupan sosial zamannya merefleksikan kembali pengalaman-pengalamannya melalui sastra dengan tujuan agar terjadi interaksi dengan pembacanya. Lewat interaksi dengan pembaca sangat mungkin penulis mengajak pembacanya untuk mengkritisi kembali keadaan sosial yang melingkupinya. Kemiskinan, ketidakadilan, penindasan, nilai-nilai kebenaran, kecurangan, sering menjadi ide sentral dalam karya sastra. Bahkan bukan tidak mungkin sastra menjadi sarana perjuangan kelas.

Dalam konteks yang lebih luas sastra dapat dipandang sebagai sarana kritik sosial. Hal ini berkaitan dengan aspek referensial dalam pendekatan sebuah karya sastra. Aspek ini berkaitan dengan acuan karya sastra dan hubungannya dengan dunia nyata. Tokoh Minke dalam tetralogi Bumi Manusia karya Pramodya misalnya, dikaitkan dengan sosok yang hidup dalam sejarah yaitu Tirto Adhi Soerjo. Begitu juga dengan novel-novel berlatar belakang sejarah. Kehidupan di masa lampau digambarkan kembali dan dikritisi dengan maksud untuk mengkritik kehidupan sosial di mana penulis berada.

Meski demikian sastra juga harus dipandang sebagai sebuah struktur otonom yang berdiri sendiri. Sekalipun sebuah karya sastra menggambarkan situasi sosial tertentu dengan sangat tepat dan akurat, waktu, tempat dan sebagainya, namun sastra tetap harus dipahami sebagai sebuah karya fiksi yang tidak memiliki keterkaitan dengan dunia di luar dirinya. Tidak bisa dilakukan penelitian sejarah dengan mengacu pada karya sastra meski informasi yang terdapat di dalamnya sangat membantu penelitian sejarah. Sebab sejarah hanya menggambarkan fakta-fakta kaku. Tokoh, waktu, tempat, dan peristiwa dalam sejarah digambarkan tanpa menyertai bagaimana pelaku sejarah sebagai subjek memahami waktu, tempat, dan peristiwa itu dalam kesadarannya. Begitu juga hubungan subjek tersebut dengan subjek lain karena dalam peristiwa sejarah seorang tokoh pada dasarnya tinggal dan hidup bersama subjek-subjek lain selain dirinya. Pada titik inilah sastra mengambil peranan.

Kehidupan subjek yang dinamis dapat terekam dalam karya sastra. Bahkan nilai-nilai yang mendasari perubahan sikap subjek dapat tergambar dengan jelas. Dalam tulisan formal tidak mungkin seseorang menulis seperti: “Dan akan kulontarkan lagu-lagu perang pengasah kelewang ke dalam sanubari pejuang-pejuang syahid, yang telah aku janjikan pertolongan, aku, Multatuli.” Tapi dalam sastra luapan emosi seperti itu mungkin dilakukan karena fiksionalitas dalam sastra memiliki ruang untuk menggambarkan manusia sampai ke lubuk tergelapnya.

Namun karya sastra tetaplah karya sastra. Sekalipun pembaca tergugah oleh kritik sosial yang dihadirkan, sebuah karya sastra tetaplah cerita fiksi yang ditulis oleh pengarang dengan imajinasinya. Penulisnya mungkin bermaksud untuk menyajikan sebuah hiburan yang bermakna sambil mengajak pembaca untuk mensikapi kondisi sosial yang digambarkan dalam karya sastra. Dan khusus mengenai hiburan, mungkin banyak hiburan lain yang lebih menarik ketimbang membaca novel yang tebal atau cerpen atau puisi. Tapi untuk kali ini bolehlah penulis menyarankan untuk membaca sastra.

Dalam khasanah sastra Indonesia nama Ahmad Tohari mendapat tempat tersendiri di kalangan peminat sastra. Tokoh-tokoh dalam tulisannya menggambarkan manusia-manusia sederhana. Lasiyah istri Darsa yang lari dari desa dan menjadi simpanan lelaki tua kaya raya di kota, Pambudi yang dimusuhi oleh perangkat pemerintah desa karena berebut kembang desa, atau tokoh-tokoh lain dalam novel seperti Kubah, trilogi Ronggeng Dukuh Paruk, atau pun kumpulan cerpen Senyum Karyamin. Mereka adalah tokoh-tokoh yang hidup di tengah-tengah ketimpangan sosial yang melanda pelosok-pelosok desa dan rakyat miskin.

Salah satu karya Ahmad Tohari yang layak untuk dinikmati adalah novelnya yang berjudul “Orang-orang Proyek”. Novel ini mengisahkan proses pembangunan proyek jembatan sungai Cibawor pada masa Orde Baru. Seorang insinyur bernama Kabul yang pada saat kuliah merupakan seorang aktivis menjadi Protagonis utama dalam kisah ini. Halaman demi halaman tersaji pergulatan batin Kabul, baik yang berkaitan dengan proyek mau pun yang berkaitan dengan Wati, petugas administrasi yang kelak akan menjadi Nyonya Kabul.  

Bukan tanpa tujuan Ahmad Tohari menciptakan tokoh insinyur berlatar belakang aktivis. Kontras sudah ditunjukan sejak awal. Mungkin kita akan bertanya, apa hubungan insinyur dengan aktivis? Hubungan inilah yang menjadi sebab pergolakan batin Kabul. Protagonis lain yang juga berlatar belakang aktivis adalah kepala desa bernama Basar yang merupakan rekan satu kampus Kabul. Dua orang tokoh sesama berlatar belakang aktivis, satu menjadi perangkat pemerintah yang lain menjadi aparatur pembangunan. Jabatan yang seharusnya dapat mewadahi idealisme mereka sebagai aktivis sehingga dapat memajukan dan mensejahterakan rakyat.

Tapi tidak demikian dalam novel itu. Sebagai Kepala Desa Basar harus berhadapan dengan kenyataan bahwa “sistem kekuasaan di bawah (partai) Golongan Lestari Menang, GLM, menempatkan jajaran perangkat desa dan kelurahan seluruh Indonesia menjadi onderbouw mereka” (Tohari, 2007:84). Dan kebetulan di wilayahnya sedang berlangsung proyek pembangunan jembatan yang dipimpin oleh rekan sesama aktivis sewaktu di kampus, Kabul.

“Di wilayah desa yang Anda pimpin, kini ada proyek besar. Pelaksananya adalah kontraktor yang dulu kita menangkan dalam lelang pekerjaan. Jadi, mereka sudah tahu apa kewajiban mereka terhadap kita. Mereka akan memperbantukan truk-truk dan kendaraan lain untuk mengangkut massa datang ke lokasi upacara HUT...” ungkap salah seorang tokoh GLM kepada Basar.

“Ya, itu pun akan menjadi bagian orang-orang proyek (pengaspalan jalan, red). Mereka juga akan memindahkan generator, menyiapkan corong-corong, podium, dan mengurus pembiayaan perjalanan Ketua Umum dan para Pengawalnya. Nah, sekarang, Saudara Kades, apa yang ingin saudara sampaikan kepada kami?” tanya tokoh GLM yang lain masih kepada Basar.

Anggaran proyek pembangunan jembatan yang semestinya digunakan untuk pengadaan material rupanya harus disunat untuk kepentingan partai GLM ini. Bukan hanya itu, penyunatan juga terjadi untuk biaya pembangunan masjid yang dilabeli dengan renovasi.

“Sebagai ketua panitia renovasi masjid, Baldun mengajukan surat permohonan bantuan kepada pelaksana proyek. Bantuan yang diminta diharapkan berupa uang serta material bangunan, terutama besi beton dan semen. Kabul membaca surat permohonan bantuan yang disodorkan Baldun. Lampirannya lengkap. Dalam susunan kepanitiaan, Kades Basar jadi salah seorang Pelindung. Gambar bangunannya juga lengkap dan baik. Ternyata rencana itu bukan sekadar renovasi, melainkan pembangunan kembali sebuah masjid dan ukurannya diperbesar. Rekomendasi-rekomendasi. Sudah ada disposisi dan pembuatnya manajer proyek, Ir Dalkijo. Kepala Kabul mulai terasa pening.” (Tohari, 2007:138)

Pada halaman lain disebutkan, “Dalam banyak kasus rusaknya jembatan-jembatan baru, Kabul terkesan oleh suara-suara yang muncul di tengah masyarakat. Banyak orang percaya, jembatan atau bangunan sipil lainnya sengaja dibuat di bawah baku mutu, sehingga cepat rusak. Dengan demikian, cepat pula datangnya pekerjaan baru buat perbaikan jembatan atau lainnya, akan tercipta peluang ngobyek bagi pejabat terkait,” (Tohari, 2007:148)

Kabul memilih mengundurkan diri sebagai pelaksana proyek. Idealisme yang dimilikinya menuntut untuk tidak terlibat lebih jauh lagi dalam proyek pembangunan jembatan. Dan pada akhirnya jembatan yang mutu bakunya rendah itu rusak. Tohari menulis, “Jembatan Cibawor sudah kelihatan. Tampak mangkrak dan kesepian. Kegagahan yang dulu sempat tampak kini hilang. Dan begitu turun dari mobil di mulut jembatan, Kabul segera tahu bagian mana yang rusak. Lantai jebol pada dua titik dan aspal sudah retak hampir sepanjang lantai jembatan.” (Tohari, 2007:217)

Demikian akhir novel bertitimangsa April-Mei 2001 itu. Lewat tulisannya yang berlatar belakang pekerjaan proyek di masa orde baru ini, Ahmad Tohari mencoba mengkritisi pelaksanaan proyek di mana berbagai kepentingan di luar proyek turut terlibat dalam penggunaan anggaran proyek. Alhasil jembatan yang dibangun tidak bertahan lama karena material yang digunakan harus disesuaikan dengan anggaran yang telah dipangkas. Pertanyaan yang menyeruak sesudah membaca novel ini adalah, apakah topik yang dikemukakan Ahmad Tohari dalam novel Orang-orang Proyek masih tetap aktual saat ini?
Surabaya, 27 Desember 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar