Senin, 08 Januari 2018

HARI PERTAMA

Oleh : Chandra Krisnawan
 

Ketika pertama kali datang ke tempat ini, aku segera terpesona oleh suasana sekeliling yang dibangun khusus untuk kami1. Dinding-dindingnya serba putih. Tidak ada satu hiasan dipasang di salah satu sudutnya. Beberapa sketsa dan lukisan hanya dipasang di gedung depan, gedung kepala panti, ruang berkunjung tamu, dan bagian administrasi. Juga meja dan kursi terbuat dari kayu, polos tanpa ada taplak penghias atau ornamen di sandaran kursi. Dan sejauh yang kuketahui dari pembicaraan beberapa orang di dalam gedung tadi semua itu adalah hasil kerja yang dilakukan oleh orang-orang di dalam.

Begitulah mereka menyebutnya, orang-orang dalam. Batas dengan dunia luar adalah tembok setinggi lebih dari dua meter. Kami dikurung di dalamnya. Atau sebaliknya, orang-orang dari luar jangan sampai mengganggu ketentraman dunia kami. Ketentraman penghuni panti yang damai dan bahagia!

Petugas lelaki yang menggandengku saat mengantarku kemari tak banyak bercerita. Jarang pula aku diajaknya bercakap. Pertukaran bahasa antara kami berlangsung melalui pandangan mata dan goyangan kepala, gelengan dan anggukan. Padahal dia sudah jauh-jauh menempuh perjalanan menuju perbatasan desa yang sunyi dengan truk dinasnya khusus untuk menjemputku di kandang ayam yang telah kubangun dari potongan-potongan kayu dan kain bekas.

Tapi biarlah. Petugas itu lelaki yang baik. Setelah memberiku pakaian dia membawakan sebungkus nasi dengan lauk daging segar. Sungguh merupakan kemewahan tersendiri bagiku mendapatkan pelayanannya! Ya, petugas itu adalah pelayanku. Negara melalui aparatur-aparaturnya merupakan pelayan bagi tiap warga negara, baik yang dikategorikan waras atau tidak. Baik yang dikategorikan ber-tempat tinggal atau pun tidak! Dan mereka boleh dikategorikan sebagai pelayan yang paling berjiwa sosial. Ketika yang lain sibuk memikirkan tempat-tempat yang basah agar bisa kecipratan proyek-proyek yang menghabiskan anggaran negara, mereka sibuk mengurus kami!

Dari gedung depan yang penuh dengan pigura-pigura dan bunga-bunga aku digandeng melewati koridor panjang. Lalu di depan sebuah bangunan panjang petugas itu memintaku duduk di atas dudukan dari semen. Tidak ada papan nama di tiap pintu yang kudapati seperti halnya kasie urusan ini dan itu seperti di gedung utama tadi. Lalu dia memanggil seorang lelaki yang sedari kami keluar dari gedung utama terus mengikuti kami dan yang sekarang berdiri agak jauh. Dia menyuruh lelaki itu untuk mengawasiku sementara dia akan membuat laporan penerimaanku di sini.

Dalam hati aku tersenyum. Bahkan nyaris mendekati tawa ejekan. Rupanya di sini aku mesti diawasi dan dilaporkan. Apakah aku termasuk orang liar yang perlu diawasi tingkah lakunya agar tidak membahayakan orang lain? Pada siapa pula aku akan dilaporkan? Pada anggaran-anggaran yang akan membiayai kebutuhan makanku di sini? Baru kali ini aku mendengar perintah agar aku diawasi, seolah aku hendak berbuat makar! Padahal yang perlu diawasi adalah orang-orang yang dengan kekuatan modalnya mengusir kami dari rumah kami sehingga kami harus menggelandang! Mereka membuat kami kehilangan pikiran waras kami! Bukankah mereka sering meneriakkan, “Kalau kami waras tentu kami akan menerima uang yang ditawarkan daripada bertahan di atas tanah yang jelas-jelas bukan milik kami!” Tapi apakah tanah itu juga milik mereka sehingga mereka merasa berhak membongkar rumah yang kami tempati puluhan tahun?

Setelah kepergian petugas itu, penghuni-penghuni panti lain yang semula melihat dari jauh perlahan-lahan mendekat. Seorang perempuan berdiri merapat dinding sambil terus memandangiku. Juga penghuni-penghuni panti lain memilih tempat masing-masing yang lebih dekat untuk mengawasiku. Mereka mengawasiku dengan diam. Aku heran, apakah tidak ada niat dari mereka untuk sekedar bertanya dari mana aku datang? Juga pengawas baruku yang telah mendapat mandat, dia memandangiku terus menerus tanpa mengalihkan tatapannya ke tempat lain. Alangkah berbelitnya memulai percakapan antara kami!

Menghadapi situasi seperti ini, darah dalam dadaku serasa mendidih. Aku malu. Benar-benar malu. Di luar sana belum pernah aku dipermalukan seperti ini! Pernah puluhan orang mengepungku untuk menangkapku karena aku terus berteriak-teriak. Tapi puluhan orang itu punya tujuan sama terhadapku: mendiamkanku. Karena itu aku tahu bagaimana menghadapi puluhan orang itu ketika tangan-tangan mereka mulai mengcengkram tiap bagian tubuhku. Aku bisa meronta sekuat yang aku mau dari tenaga yang bisa dilontarkan oleh tubuhku. Tapi bagaimana menghadapi kepungan orang-orang yang tidak punya tujuan dan tidak jelas apa maksudnya mengepungku?

Aku ingin tertunduk. Tidak ingin lain. Tapi sebungkus nasi berlauk daging yang mengisi perutku sebelumnya menjadikan amarahku memiliki kekuatan berlipat. Aku tahu aku dapat menindas masing-masing orang yang matanya mengepungku tanpa hasrat itu. Aku yakin mereka dapat aku kalahkan dengan kepalan tangan yang telah dilumuri sekepal daging. Aku hendak bangkit. Dan yang pertama menjadi sasaran kemenanganku adalah lelaki yang mendapat tugas untuk mengawasiku.

Kulayangkan tamparanku hingga mengenai bagian atas telinganya. Lelaki itu tersungkur dan mengerang kesakitan. Belum puas aku tubruk tubuhnya yang jatuh itu dengan seluruh berat badanku. Aku ingin membalaskan dendam padanya karena sedari awal hingga akhir dialah yang terus menerus menatapku serupa itu. Mungkin pengawas ini telah menyuruh penghuni-penghuni lain untuk merubungku tanpa sepengetahuanku. Maka kutumpahkan seluruh hasratku untuk mengalahkan tatapan yang mengelilingiku padanya. Juga dendamku pada orang-orang yang menyebabkanku kehilangan tempat tinggal hingga terdampar di tempat ini. Semua itu kutumpahkan padanya. Padanya seorang...!

Para pengerumun itu segera berteriak-teriak dan melarikan diri. Di bagian sana, orang-orang yang tidak ikut mengerumuniku juga ikut lari mengetahui kawan-kawannya berlari ketakutan. Mereka seperti lebah yang sarangnya terjatuh di tanah. Aku jadi ingat bagaimana perempuan-perempuan di kampungku berteriak histeris ketika rumah-rumah mereka diratakan sama tanah oleh tangan-tangan dingin excavator. Aku jadi ingat bagaimana anak-anak mereka ikut menangis melihat ibu mereka diseret menjauhi area penggusuran. Hanya saja akulah yang kini menjadi si tangan besi penghancur tempat tinggal.

Dan lelaki itu tidak mencoba melawanku. Dia hanya berusaha bangkit dan lari sambil terus meneriakkan erangan yang memilukan. Sayang, tiap kali berusaha bangkit sebungkus nasi yang menjadi kekuatanku terus merubuhkannya. Hingga pada suatu kali aku menubruknya hingga dia menabrak dinding. Setelah itu dia berhenti mengerang. Tubuhnya yang terbaring di tanah tidak mencoba lagi untuk bangkit. Baru aku sadar bahwa mungkin aku telah membunuhnya. Selama itu, kami telah berpindah tempat sejauh belasan meter dari tempat pertama kali dia kutampar.

Petugas yang datang belakangan terkejut melihat lelaki itu terbaring di tanah dengan hidung dan mulut berlumuran darah. Mengetahui hal itu mereka, para lelakinya, menjadi lebih siaga. Sedang petugas-petugas perempuan yang terlanjur datang ke sumber kegaduhan berlari kembali sambil berteriak-teriak memanggil nama seseorang.

Dua orang petugas lelaki yang tinggal segera mengambil sapu untuk dijadikan pentungan yang diarahkan kepadaku. Mereka mengancam dengan sapu-sapunya itu agar aku tidak berbuat macam-macam. Sementara beberapa orang di kejauhan sana bergerak memutariku.

Aku tidak melawan ketika satu dari beberapa orang yang memutariku menabrakku hingga jatuh. Lalu beramai-ramai mereka meringkusku dengan tangan dan pentungan. Dan dalam satu hentak dunia yang semula terang benderang ditimpa matahari menjadi gelap. Kepalaku terantuk tanah dengan keras.

Ketika tersadar lagi aku sudah berada di dalam ruangan yang gelap. Hari sepertinya sudah malam meski tak terasa benar. Cahaya lampu dari luar masuk melalui lubang-lubang angin di atas pintu. Dan pintu itu sepertinya menjadi satu-satunya pemandangan yang bisa kusaksikan di ruangan ini. Empat buah dinding, langit-langit, dan lantai, semuanya berwajah sama: mengurungku. Juga pintu itu ketika kepalaku masih terasa pening yang kulihat padanya seperti dinding-dinding dan langit-langit itu juga. Dia lebih mirip penjaga yang mengawasiku agar aku tidak meninggalkan ruangan ini.

Aku hanya bisa berbaring sambil menempatkan kepalaku sedemikian rupa agar luka di kepala yang sudah diberi perban itu tidak menimbulkan rasa sakit. Lagipula, apa yang bisa aku lakukan selain berbaring! Bisa saja aku melihat-lihat luar dengan memanjat lubang-lubang angin di atas pintu. Dengan begitu aku bisa tahu seperti apa ruangan lain yang terletak di seberang ruang kosong di mana aku berada sekarang. Ini bisa dilakukan. Hanya saja kepalaku masih terasa sakit.

Tapi bayang-bayang tentang sesuatu yang berada di ruangan seberang itu tidak mau kubaringkan. Dia mengajakku keluar dari pintu dan menerka-nerka apa saja yang mungkin ada di sana. Barangkali di sana ada meja-meja dan kursi-kursi. Barangkali juga ada rak-rak dan lemari. Mungkin ada benda-benda yang bisa digunakan sebagai penyangga kepalaku untuk berbaring!

Di luar tidak terdengar suara. Bayanganku mengatakan bahwa ada beberapa orang di luar sana. Berbicara dengan berbisik-bisik atau dengan bahasa isyarat agar tidak didengar oleh telinga lain yang berada di dalam sini. Mungkin tiga atau empat orang berada di sana. Dan mereka tengah membicarakan lelaki yang dikunci di dalam ruangan karena baru saja menghajar kawannya sesama panti. Sial, ada orang yang sedang membicarakan aku dengan sembunyi-sembunyi!

Dengan sangat terpaksa kuangkat punggungku untuk mendengar lebih seksama lagi. Indraku yang lain kupadamkan untuk menguatkan pendengaranku. Sekali ini aku terlalu sangat dapat jawab kepengen2 perihal pergunjingan orang lain tentang aku. Ya, aku sangat berkepentingan dengan hal ini. Aku tidak ingin mereka keliru menilai aku!

Meski sudah kucoba dengan segenap kemampuan yang aku bisa, tetap saja pergunjingan itu tidak dapat aku dengar. Suara mereka terlalu lembut untuk telinga manusia. Atau, sebaiknya aku menggeser dudukku ke dekat pintu. Siapa tahu dari sana, dan ditambah dengan segenap kemampuan yang kumiliki, dapat kutangkap suara-suara yang menggunjingkan aku.

Hanya saja aku sangat malas bergerak meski hanya beberapa langkah saja. Kelembaman materi menguasaiku. Yang hendak kuperbuat selanjutnya adalah berbaring lagi sambil berharap suara-suara itu lupa dengan nada rahasianya sehingga meloloskan satu atau dua kata ke telingaku. Jika itu yang terjadi, itu akan cukup untuk membantuku menerka-nerka apa yang tengah digunjingkan tentang aku.

Sampai sekian lama kutunggu tak juga ada kelolosan kata-kata. Juga di luar sana, tidak ada suara manusia. Yang ada hanya deru mesin-mesin motor. Itu pun jauh. Kelewat jauh. seolah antara dunia di luar sana dengan di dalam sini tidak hanya dipisahkan oleh dinding. Di mana aku sebenarnya kini?!

Mengenai keberadaanku saat ini tak perlu diragukan: aku masih hidup. Dunia tidak terasa asing dan bisa kukenali; dinding, langit-langit, lantai, pintu, dan cahaya lampu yang menerobos masuk. Juga suara-suara di luar. Jelas aku masih berada di bumi tengah. Dan jika aku masih berada di bumi tengah, tentu nanti akan ada orang yang datang kemari membuka pintu itu dan membawaku keluar.

Itu nanti. Sekarang pikiranku membawakan sosok pengawasku tadi. Bagaimana nasibnya sekarang? Aku berusaha meyakinkan diriku bahwa dia baik-baik saja. Mungkin dia mengalami luka di sana-sini. Tapi dia harus tetap hidup dan bertingkah seperti sebelumnya, mengawasi tiap orang yang baru saja datang.

Entah kenapa sekarang aku merasa harus menjadi lebih simpati kepadanya. Dia memandangku dari mula sampai akhir hanya menuruti dorongan batiniahnya yang wajar. Dorongan batiniah itu mungkin rasa ingin tahu yang tinggi terhadap sesuatu yang nanti akan menjadi kawannya, aku atau orang-orang baru yang akan datang.

Sebenarnya aku tidak tahu apakah dia berlaku seperti itu pada setiap orang yang baru datang. Mungkin kebetulan dia ada di sebelah pintu siang tadi, lalu mengikuti aku dan petugasku. Aku rasa dia ingin berbicara denganku. Mungkin bertanya nama, asal, dan bagaimana aku bisa sampai di tempat ini. Mungkin dia ingin berkata bahwa dia dan aku bernasib sama di jalinan benang yang berbeda. Mungkin masih banyak lagi yang hendak dia tanyakan padaku.

Tapi tingginya dorongan batiniah yang ada pada dirinya tidak serta merta diungkap lewat bahasa. Padahal bahasa perlu untuk menyampaikan gagasan-gagasannya. Bisa saja aku meracau dengan bunyi-bunyi aneh seperti mantra. Tapi aku akan segera meninggalkannya karena aku yakin itu hanya cara bagiku untuk menarik perhatian orang padaku. Ya, seharusnya setelah petugas itu menyerahkanku padanya dia mesti bertanya sesuatu padaku. Itu akan lebih mudah meski belum tentu juga kutanggapi ajakannya berdialog. Paling tidak inisiatif harus dia yang memulai karena dia yang pertama mengajakku saling adu pandang.

Kenapa kau hanya diam dan menatapku, hai, pengawasku? Apakah dengan pandanganmu itu kau dapat menaksir seluruh diriku? Bahkan petugas-petugas yang telah mencatat data-dataku dengan lengkap saja tidak dapat menjawab jika pada mereka ditanya: dari mana asalnya gelandangan yang satu ini? Juga orang-orang yang telah melapor kepada petugas, yang menurut mereka keberadaanku mengganggu ketentraman kehidupan warga sekitar. Aku hanya kebetulan lewat dan menemukan ada tempat kosong di antara belukar-belukar tinggi yang lalu kudirikan kandang ayam untuk tidur. Aku menyebutnya kandang ayam karena memang frasa itu mengena dan lazim digunakan di dunia sastra.

Jadi kalau melalui dialog saja mereka tidak dapat menemukan jawab yang dicari, bagaiamana kau, dengan hanya tatapanmu, dapat mengetahui siapa aku, hai, pengawasku?

Keluar dari ruangan ini aku harus memperbarui hubunganku dengan pengawasku. Aku akan meminta maaf padanya dengan caraku sendiri, cara seorang penyair. Akan kulambungkan dia dengan kata-kataku, dan kutempatkan di bagian paling tinggi dalam hatiku. Lalu aku, dengan kekuatan yang telah kutunjukkan pada setiap orang dilingkungan ini, akan menjadi pelindungnya yang setia. Aku akan menjaganya dari tingkah orang-orang sepertiku!

Ya, aku bisa melakukan ini! Ini akan menjadi peran yang menarik untuk dijalankan...

Tengah asyik memikirkan peran baru yang bakal kuemban, terdengar derit sebuah pintu dibuka. Bukan pintuku, tapi pintu lain di luar ruangan. Deritnya benar-benar menggangguku hingga membuatku heran, bagaimana aku bisa yakin bahwa engsel itu menderita karena beban pintu yang dibuka? Bagaimana otakku bisa menarik kesimpulan bahwa suara itu adalah suara pintu sedang aku berada di ruangan lain yang tak dapat meyakinkan diri dengan penglihatan bahwa suara itu adalah suara pintu? Juga bagaimana otakku mempercayai jika itu suara sebuah pintu, jenis pintu yang terbuka pula? Apakah kecendrungan sebuah pintu adalah tertutup sehingga ketika dia bersuara maka suaranya itu adalah suara yang menyatakan bahwa dirinya sedang dibuka?

Lalu terdengar langkah kaki bergerak masuk; benarkah? Suara klik yang sedetik kemudian diikuti padamnya lampu di luar. Pekat menyelimuti ruangan di mana aku berada. Lalu kudengar langkah kaki diangkat, sangat lembut, mendekati pintuku. Apa yang hendak dia caro di balik pintu itu dalam gelap? Lagipula, bukankah lubang kunci di jaman ini tidak dapat digunakan untuk meneropong ruang di baliknya? Apa dia ingin mendengar suara dengkurku untuk memastikan bahwa aku masih hidup? Kenapa tidak membuka pintu itu dan memeriksa keadaanku dalam keadaan terang benderang disinari lampu bertemperatur enam ribu lima ratus kelvin? Bukankah lampu-lampu di jaman ini memiliki tingkat penampilan warna yang di atas delapan puluh persen, artinya apa yang dilihat di bawah sinar lampu itu kebenarannya mendekati penglihatan di bawah terangnya sinar matahari?

Dia diam di balik pintu sana. Aku pun diam di dalam sini. Kami sama-sama diam. Aku rasa dia tahu bahwa aku juga mengetahui keberadaannya. Karena itu dia memilih mengendap-endap ketimbang membukakan diri. Oh, hubungan antar manusia yang berliku...

Cukup lama juga kami berdiam diri. Lalu kudengar langkah kaki menjauh dan pintu terbuka kemudian tertutup. Terakhir yang kudengar darinya adalah suara slot pintu dikunci. Setelah itu keheningan sempurna. Suara televisi yang jauh tidak mendapat tempat dalam perhatianku karena itu bukan duniaku.

Setelah hening tiba untuk pertama kalinya dalam ruangan ini kubangkitkan tubuhku. Aku hendak merabai pintuku dan memanjat lubang angin di atasnya. Kini setelah benar-benar yakin bahwa di luar tidak ada orang aku ingin memastikan seperti apa ruangan di luar itu.

Aku harus benar bahwa di sekelilingku hanya ada kesunyian. Aku harus pasti tentang ini! Sebab hendak kuhidupkan sosok pengawasku dalam ruangan ini. Juga petugas yang menjemput dan menggandeng tanganku. Juga orang-orang yang kutemui atau sekedar menatap padaku. Juga keputusan pengadilan yang memenangkan gugatan atas tanah yang menurut badan pertanahan belum pernah diterbitkan surat-suratnya. Aku hendak bercakap-cakap dengan mereka. Ini kuperlukan supaya aku tahu bagaimana aku bisa berada di sini. Lagipula di dalam kesunyian, berbicara dengan sesuatu dapat membantuku melewatkan berat yang menekan dada.

Yang pertama muncul dari diriku setelah turun dari lubang-lubang angin adalah senyum tipis. Lalu tawa yang kelewat samar. Dan dengan makin tegasnya sosok petugasku, tawaku mengeras. Pengawasku mendekat dengan takut-takut. Juga pegawai kelurahan yang menunjukkan keberadaanku kepada petugasku. Lalu bergantian datang manusia-manusia akrab dari masa lalu. Kecuali kematian istriku, aku ingin semua itu hidup kembali....

Eh, aku gembira karena kini bertambah beberapa kawan baru. Aku harap mereka tak bosan-bosan mengunjungiku ketika hening melarutkan aku. Apalagi ini adalah malam pertamaku di tempat baru.

Surabaya, 05 Mei 2015

 

1) Ditulis dengan ingatan pada cerpen Iwan Simatupang yang berjudul Lebih Hitam dari Hitam

2) Dikutip dari sajak Chairil Anwar yang berjudul Malam Di Pegunungan

WAJAH MAK IMAH DI ATAS CERMIN PECAH

Oleh : Chandra Krisnawan

Menatap wajah Mak Imah adalah menatap wajah
pembangunan dalam keping-keping cermin pecah

Sudut-sudut pantul baur dan ambyar. Leret
leret warna bengkok terpeleset. Rupa
kongruen bengot dan perot. Sorot mata robek
dalam gubuk rendah bercampur kandang bebek

Tubuh tua Mak Imah lebih kurus dari tahun lampau
Kerut di kulit meroyak seperti bengkah tanah kering
Rambut kian tipis seperti kaki-kaki gunung
ditebah cakar-cakar baja galian C. Tandus dan pilu

Angin muson timur menyempal
lewat sela-sela dinding gedek. Siapa itu di luar?

Tak ada bulan apalagi anggur untuk dituang
Sungguh, manusia celaka bukan dua orang di balik jendela
tapi kami yang duduk dalam gubuk
di atas tanah pekuburan
terpukat lingkaran ketimpangan

Keping-keping beling terserak
Gunung-gunung kapur meledak. Ribuan
depa jalan beton mulur merambak

gedung-gedung batu mengenjak
Tegak dan congkak. Eh,
sementara mortir jatuh di ladang petani dan

gorong-gorong beton menjamur di kota
aku jadi tahu mengapa pabrik semen berkukuh didirikan!

"Saya baru saja sembuh dari sakit,"
katanya setelah kami duduk. Bangsat-bangsat
merangkak dari gelap lahad

Bau kotoran ratusan bebek datang memegat
Bau apak kemiskinan menjerat
Bau penggusuran berjubel dalam tempurung
Kami terkepung

Mak Imah bertutur tentang sakitnya
Tentang batuk yang panjang dan darah yang menebal
Tentang tulang yang ngilu dan daging yang pegal
Kami bertanya: siapa yang tidak lelah?

Obat dari dokter ditanam dalam tubuh
Bebek-bebek diurus orang lain
Punggung tua hendak disandarkan

Matahari memberat di barat
Tuturan demi tuturan minta dicatat
Ada kenalan dan tetangga. Ada  becak tua
suaminya yang dijual. Ada amplop dari penderma
pada lebaran tahun lalu

Juga ada petugas yang menakutinya dengan penggusuran
Tapi tidak ada anak-anak

Ah, ya! Tidak sekali pun tentang anak-anak

Senja kumelun dengan warna-warna rapun
Tanah pekuburan memantulkan sebuah wajah
Murung dan susah!

Sejemang perjalanan dari tanah transmigran ke stren kali
Dan dari tren kali tersikut siku ekskavator
lalu menumpang di tanah pekuburan
masih belum usai!

Raut tua Mak Imah tidak hanya beset dan beret
Keping-keping beling juga merajamnya
Surabaya, Juni–September 2017

Minggu, 07 Januari 2018

BALADA TARWIYAH TUA DAN GUBUKNYA


Oleh: Chandra Krisnawan

Ribuan lembar polimer yang tersangkut
di padang sampah
mendesah disapu suku-suku angin malam hari. Igau gelisah
memalut tidur. Pucuk-pucuk daun lamban berembun.

Dengut kidung malam bergelayut

dari musim hujan yang sudah. Bulan juni seiras rayu
lewat kata-kata merdu.

Dingin! Dingin yang purba dan liar. Dingin
dari tahang kemelaratan. Dingin yang tak hanya dingin.

Dingin lewat sulur-sulur gaib turun merusuk
Udara penuh arus aroma sampah membusuk
Langgam hari pekat melapuk

Dua matahari telah terbenam ke pangkuan alam
Dua matahari menanam benih ke dalam rahim. Dua matahari
meninggalkan di atas ruang yang bergolak, anak-anak

Tarwiyah tua menatap dinding di hadapannya
Dinding pembatas dari bangunan yang ditinggalkan
Dinding yang belasan tahun jadi tulang punggung gubuknya
Kini pucat terkapar di tanah

Kilau limau di langit pudar
Bulan bagai biji nikel membara

Bulan yang selalu luput kita tatap
Bulan yang tersiah kerling bayang-bayang kota

Kerling bayang-bayang kota menyanjung pembangunan
Pembangunan memuja gedung-gedung batu dan jalan-jalan aspal
Gedung-gedung batu dan jalan-jalan aspal mengepung dinding
kemiskinan. Kemiskinan sembunyi bagai kepinding
di bawah lempitan tilam

Dan ketika pembangunan meminta ruang
Ribuan gubuk digeser dan digusur. Digusur dan
diuruk. Diuruk dan digulung
bagai ampas sejarah. Bagai tak pernah nyata


Amboi, suara kemarin, hari ini, dan esok;
gedung-gedung baru nan megah
mengapa mesti menggilas gubuk-gubuk reyot?

Wujud-wujud puja menggeliat. Tiang-tiang
pancang melesak. Mesin-mesin berat
berkelebat. Tulang-tulang
baja gemerencang. Atap seng berkerencang.
Usuk bambu berderit. Dinding
tripek dan gedek gemeretak.
Beban jalan menekan punggung gubuk Tarwiyah tua

Tinggi dan jenuh, dan air yang sarat salah arah
Menghempas dinding ke tanah
Patah
Rebah

Bumi boleh ambles beriring derak kayu roboh
Atau debam batu-batu raksasa yang runtuh
Atau gemeleduk guruh di balik timbunan mendung

Juga matahari! Biar karam terjunam sama semburat
nuansa kelamnya.
Tapi tidak dengan gubuk Tarwiyah tua

Tidak sekali-kali dengan gubuk itu!
Juga tidak dengan bilik anak-anak menyemai mimpi
Tidak pula dengan tanah berpijak bagi batang rumput tua

Disauknya batu selingkaran tangan
Dihalaunya duka yang mengangkangi reruntuhan
Dihantamnya kegelapan. Ditumplaknya serapah.
Wahai, pembangunan mengapa mesti mencebik
kemelaratan?

Tapi hanya ada gemerusuk lembar-lembar polimer
Amuk jatuh di padang sampah
Kata pulang ke pangkal

Lelah dan kalah. Dan sendiri. Dan dingin.
Gelung rambut jatuh. Pesta kebak topeng dan taifun
tuntas. Tarwiyah tua tunduk.

Dari dalam gubuk baru terdengar suara memanggil

Suara anak perempuan yang putus sekolah
Suara gadis pekerja berumur belasan tahun

Suara seorang kakak yang meninggalkan adik
perempuannya bermain di tengah onggokan sampah kota

“Mak! Mak, tidur! Hari sudah malam.
Nanti kau masuk angin.”

Suaranya ulem namun pilu
Meriak telaga di dada

Tarwiyah tua memuja Zat Agung. Sukma sang rangda
berlapik hening. Nasib dan peruntungan
ke langit jua menjalanya.

“Duh, Gusti! Kawinkan segera anakku
Supaya mentas dari nestapa tempat ini.”

Doanya naik ke langit menunggang cahaya
Dalam lipatan detik memintas bimasakti

“Mak, Mak! Lekas masuk!”
Suara itu lekat selayak denging di telinga sendiri

Rembang lengang. Padang sampah menyisih.
Larik-larik lumen melemah.

Dua perempuan merangkum ruang yang sama
Satu mengibai emaknya

yang lain meratapi masa depan anaknya
– “Gubuk mana akan menampung mereka kelak?”
Surabaya, Juni–Agustus 2017
* Naskah ini masuk dalam 100 nominasi terbaik lomba cipta puisi yang diselenggarakan oleh Himprobsi UNS tahun 2017.

BALADA SUPARDI DAN SUPINAH

BALADA SUPARDI DAN SUPINAH*
Oleh : Chandra Krisnawan

Sehabis hujan. Udara basah
melukis wajah
Supinah dengan warna lebar kelabu
di atas genangan air. Rembang
remang. Angin merabung. Berlindung
di teras toko yang tutup Supardi
tidur di atas becak.

Gadis-gadis melintas. Jalanan
lecah. Debu terbenam. Butir-butir air meluncur
dari ujung talang. Pecah membisu.
Lukisan wajah Supinah koyak
dibelah roda.

Supardi bermimpi di siang sehabis hujan.
Punggungnya yang melingkar membawanya
terbang. Kakinya yang terangkat mencelup bening
air kali. Tubuh-tubuh gadis muda
mandi, bersembunyi di balik
belukar yang terlindung.
Di sana dada muda Supinah
dirayu air.

Supinah! Supinah! Supinah!
Mengapa dulu tak terjawab pinanganku
Mengapa dulu kau jawab
geliat berahi kota.

Keping-keping es kembali memadat di langit
februari. Badai terbentuk dalam sekejap
ketika Supinah
yang dulu dipuja
menggoyang kaki Supardi. Tapi
ragu dan undur kembali.
Karena Supardi tengah merayu
gadis di dalam kali.

Mungkinkah Supardi bermimpi bersama Supinah
tamasya ke luar negeri,
mengunjungi kota-kota asing. Tidur
di atas ranjang penuh bunga.
Lalu menua
dalam pelukan anak cucu
yang menyanjung namanya?


Tidak! Mimpi Supardi adalah mimpi kayuhan
becak. Menggotong tubuh Supinah
yang dilapisi gincu tebal, dari
kamar kecil di lorong kota
menuju dingin rel kereta malam hari
atau hitam pekuburan kota.

Tidak sekali-kali! Tentang kamar bercahaya sejuk
tiga ribu kelvin, mimpi Supardi.
Tapi, sesekali, tentang tanah yang belum
dia punya. Sesekali pula
tentang rumah dari batu bata.
Juga tentang angka-angka buntut.
Dan ketika bertemu lagi dengan Supinah
malam itu di pekuburan kota
terpisah setelah bertahun-tahun, mimpi itu
tentang dada muda Supinah
yang dirayu air kali
di tepi desa.

Hujan kembali turun. Panjang dan kerap.
Biji-biji badai berbenturan.
Angin bersabung. Pohon
tumbang.
Ledakan dekat dengan jantung.
Supardi terbangun
ketika Supinah yang jongkok
di dekat becak menatap langit
dengan mata nanap.

“Malam ini tak ada kayuhan becak”
Katanya kepada Supardi
lewat retakan petir
bertumpu tumpukan badai.
Surabaya, 17 February 2017


* Naskah ini mendapat penghargaan sebagai juara III lomba cipta puisi Fester tahun 2017 yang diselenggarakan oleh Teater US dalam rangka Dies Natalis Universitas Surabaya yang ke-23.

Jumat, 05 Mei 2017

MENYAKSIKAN PENTAS MONOLOG BALADA SUMARAH OLEH TEATER US



Suatu malam di penghujung bulan April. Sebuah grup teater dari perguruan tinggi Universitas Surabaya yang bernama Teater US akan menggelar pertunjukan di gedung Cak Durasim. Pertunjukan itu akan mementaskan dua lakon. Yang pertama Monolog 'Balada Sumarah' karya Tentrem Lestari dan yang kedua 'Beranda Berdinding Kaca' karya August Strindberh. Pementasan itu merupakan puncak acara dari rangkaian kegiatan yang sudah berlangsung sejak bulan Maret yang diselenggarakan dalam rangka dies natalis Universitas Surabaya ke-23.

Kebetulan beberapa hari sebelumnya saya mendapat undangan untuk menghadirinya. Dan karena tidak ada halangan saya pun hadir di sana, bersama istri dan anak. Lumayan, menghibur diri sambil mengedukasi si kecil lewat pertunjukan kesenian di atas panggung.

Kami tiba di lokasi dalam keadaan gelap gulita. Rupanya listrik di area gedung Cak Durasim sedang mengalami gangguan. Tapi penerangan di dalam gedung tidak terkendala. Meski di bagian registrasi pengunjung tidak seluruhnya lampu menyala namun di dalam lampu penerangan dan AC tetap menyala.

Ketika masuk ke dalam gedung saya merasakan ada perubahan dari terakhir kali saya mengunjungi gedung Cak Durasim yang terletak di jalan Genteng Kali itu. Bagian tempat duduk penonton lebih tinggi dari sebelumnya. Sedang di bagian depan terasa menjadi lebih kecil dari sebelumnya. Entah apakah di bagian panggung juga ada perubahan.




Kegiatan dimulai oleh dua orang pembawa acara. Kemudian dilanjutkan pembacaan puisi dari naskah yang berasal dari juara pertama lomba cipta puisi yang merupakan bagian dari rangkaian kegiatan ini. Sayang, penyairnya tidak dapat hadir sehingga puisi dibawakan oleh orang lain. Padahal saya paling menantikan puisi juara pertama dibawakan langsung oleh penyairnya. Saya berpendapat, puisi yang dibawakan oleh penyairnya akan menguatkan karakter puisi itu sendiri. Tapi bukan berarti pembacaan puisi yang dilakukan tidak bagus. Hanya saja semestinya dilakukan konfirmasi dengan penyairnya terlebih dahulu perihal pembacaan puisi. Akan tetapi, tim penyelenggara tentu punya pertimbangan tersendiri.

Selanjutnya pentas diisi dengan tarian dari UKM Tari Universitas Surabaya. Tarian ini menampilkan tiga orang penari yang di atas panggung. Ketiga penari tersebut diiringi oleh musik gamelan. Setelah itu yang mendapat giliran tampil di panggung adalah dari teater pelajar. Mereka menampilkan pertunjukkan dengan menggunakan payung sebagai media pendukung yang utama. Setiap gerak dan langkah di atas panggung dari setiap orang mencoba mengeksplorasi imajinasi melalui media payung.

Pentas 'Monolog Balada Sumarah' tampil setelah itu. Dan pentas ini yan bsaya tunggu-tunggu. Saya ingin menyaksikan bagaimana tuturan seorang perempuan bernama 'Sumarah' itu ditampilkan di atas panggung. Sepertinya sangat menarik!






Pentas dimulai dengan menampilkan sosok perempuan yang duduk di atas dingklik di tengah-tengah panggung. Di sebelah kanan dan kiri terdapat dua buah bingkai yang berdiri dan diletakkan secara simetris. Sedang di belakang terdapat sebuah gambar seperti siluet sosok perempuan dalam bentuk yang simetris pula dengan warna putih di bagian tengah dan warna hitam mengelilinginya. Di bagian tengahnya terdapat tanda silang 'X', mungkin sebagai simbol dari 'suara yang terbungkam'. Mungkin juga simbol yang berkaitan dengan 'leher' karena tanda silang itu terletak di bagian leher. Simbol yang berkaitan dengan, misalnya saja, hukuman mati.

Naskah monolog itu sendiri alur ceritanya bergerak mundur. Dimulai dari pengakuan seorang perempuan atas nasib yang menimpanya di negeri asing, Sumarah mengajak para pendengarnya menyelami masa lalunya. Akan tetapi nyata bahwa masa lalu yang dikisahkannya itu bukan sekedar masa lalu perempuan yang bekerja di negeri asing karena di negeri sendiri begitu sulit mendapatkan pekerjaan. Lebih dari itu, masa lalu Sumarah adalah sejarah kelam negeri ini.

Sumarah dengan gamblang menyampaikan bapaknya yang 'diciduk' akibat tragedi di tahun 1965. Dampak dari 'pencidukan' itu ternyata tidak hanya dirasakan oleh orang yang 'diciduk' saja, tapi juga kepada orang-orang di sekeliling, dalam hal ini Sumarah sebagai anak. Padahal tak diketahui apakah benar bapak Sumarah terlibat atau tidak dalam tragedi itu.

Di sekolah Sumarah diejek oleh teman-temannya. Di masyarakat dia harus berupaya agar dia mendapat cap 'bersih lingkungan'. Pada bagian ini, naskah monolog hendak mempertanyakan kondisi sosial yang melingkupi Sumarah dalam naskah mau pun 'Sumarah-sumarah lain'.





Pendeknya, naskah ini memiliki kekuatan dari segi sosial. Realitas yang ada diangkat ke dalam naskah dan dipertanyakan. Lebih jauh, bukan hanya soal tragedi 1965 yang dipertanyakan. Tapi juga nasib Manusia Indonesia, manusia yang lahir dan besar dan bernegeri Indonesia yang bernama Sumarah. Sumarah yang di negerinya sendiri 'tidak dianggap ada' sehingga memilih mengais rezeki di luar negeri. Dan celakanya, di luar negeri sebagai TKI nasibnya tak lebih mujur. Sedang di sisi lain, seseorang yang punya kekuasaan dengan enak menjual jatah beras yang seharusnya untuk warganya. Pun jatah beras untuk rakyat itu kualitasnya....

Sumarah Menggugat, kalau saya boleh bilang. Sumarah menggugat ketidakadilan yang menimpa dirinya. Menggugat ketidakadilan yang menimpa 'Sumarah-sumarah lain. Menggugat ketimpangan dan kepincangan di sekelilingnya!

Monolog itu diakhiri dengan adegan Sumarah menikam sesuatu atau seseorang. Sebuah naskah monolog panjang telah berakhir. Meski cukup melelahkan mengikuti tuturan demi tuturan saya merasa puas. Dengan dukungan pencahayaan dan denting petikan gitar yang sesekali mengiringi monolog, menjadikan pentas itu lebih hidup.

Sayangnya waktu jua yang memisahkan. Saya tidak dapat mengikuti pementasan berikutnya karena harus segera pulang. Panggung tengah ditata untuk pementasan selanjutnya ketika kami meninggalkan gedung.

Meski begitu, saya salut pada kegigihan yang telah ditunjukkan oleh Tim Teater US. Pentas di atas panggung adalah buah dari latihan dan kerja keras yang panjang. Dan ini sangat layak diapresiasi. Semoga ke depan Teater US terus menghasilkan karya-karya yang apik.



Senin, 01 Mei 2017

BERKUNJUNG KE CANDI DERMO



Tinggal di sebuah kota yang memiliki sejarah panjang seperti Surabaya memiliki keasyikan tersendiri. Apalagi Surabaya berdekatan dengan wilayah kerajaan kuno Majapahit yang terletak di Mojokerto, tentu banyak tempat yang bisa dikunjungi.

Siang yang panas di hari minggu. Meski perjalanan menuju Krian-Sidoarjo agak tersendat, pada pukul setengah 12an kami, saya dan seorang kawan lagi, memasuki wilayah Krian. Tujuan kami kali tak lain adalah menengok situs purbakala yang ada di daerah Krian.

Sebagai pewaris kebudayaan, dalam hal ini bolehlah sedikit bergagah-gagah, kami hendak menjelajah situs-situs kuno. Untuk perjalanan pertama tujuan kami tentu yang lokasinya tak jauh dari Surabaya. Krian menjadi pilihan karena kami ingin melihat candi-candi peninggalan Majapahit yang ada di sini.

Tapi mencari sebuah situs candi ternyata agak sulit juga. Kami bertanya beberapa kali mengenai situs di daerah Terung yang merupakan peninggalan Adipati Terung. Namun dari sekian banyak orang yang kami tanya ternyata menunjukkan kepada kami situs candi lain, yaitu 'Candi Goro' (sebutan yang sepertinya diberikan oleh penduduk setempat karena ketika tiba di lokasi candi yang dimaksud bernama Candi Dermo; penamaan 'Candi Goro' mungkin karena candi itu terletak di desa Candinegoro). Entahlah, mungkin kami salah bertanya atau kata 'candi' yang kami gunakan untuk bertanya lebih pas dengan Candi Dermo. Kebetulan pula letak candi itu tidak terlalu jauh dari Terung.

Begitulah kami menuju Candi Dermo. Dalam sebuah perjalanan yang tak formal, sebuah tujuan bisa berubah sesuai dengan situasi terbaru di perjalanan. Meski tak sesuai dengan tujuan semula, perjalanan ini pun layak untuk dicatat karena apa yang kami tuju adalah satu warisan fisik dari kerajaan Majapahit.

Sampai di candi kami mendapati candi itu tengah dalam pemugaran. Tampak balok-balok kayu dipasang untuk pekerja yang melakukan pemugaran. Kami pun berkenalan dengan juru kunci candi yang bernama Pak Hadi. Oranganya ramah dan bersahabat. Kami meminta ijin melihat-lihat keadaan candi terlebih dahulu.

Kami mengelilingi candi yang lokasinya dilindungi dengan pagar kawat di sekeliling. Batu bata dari tanah liat yang dipesan khusus untuk pemugaran bertumpuk di depan pos penjagaan. Di sudut lain terdapat sebuah kamar mandi. Sedang di sisi lain batang-batang bambu tergolek di tanah.

Kami juga memasuki bagian dalam candi. Di dalamnya terdapat ruang kecil berbentuk persegi. Mungkin dulunya digunakan sebagai tempat ritual tertentu sebelum keluar dari gapura. Sedang bagian langit-langitnya merelung tinggi mengikuti struktur bangunan luar. Di bagian dalam tidak nampak ada motif atau pola tertentu seperti relief. Di bagian lantai sepertinya juga masih dalam proses pemugaran.

Kami lalu melanjutkan dengan berbincang dengan Pak Hadi. Dari percakapan dengan Pak Hadi kami mengetahui bahwa Candi Dermo merupakan sebuah gapura. Candi itu terbuat dari batu bata dengan pada bagian bangunan. Sedang di bagian lantai terbuat dari batu. Pintu masuk bagian candi terletak di bagian barat, sedang pintu keluarnya di bagian timur. Beliau juga menyampaikan bahwa pemugaran candi yang terletak di desa Candinegoro kecamatan Wonoayu-Sidoarjo ini sudah mulai dilakukan sejak 2 tahun lalu.







Lelaki yang bertugas menjadi juru kunci candi sejak tahun 2000an ini juga bercerita tentang pemugaran yang dilakukan pada saat zaman kolonial. Dan berbagai kemungkinan yang terjadi selama pemugaran di masa kolonial itu berlangsung. Beliau juga menjelaskan mengenai angka-angka yang tertera pada dinding candi. Angka-angka tersebut rupanya digunakan sebagai identifikasi penomoran susunan batu bata. Dengan begitu apabila ada kerusakan pada dinding nomor sekian, dapat langsung diidentifikasi bentuk dan batu bata yang diperlukan untuk perbaikan.

Saat ini terdapat beberapa arca yang tersimpan di sekeretariat. Dari lokasi candi kami masuk menuju kantor sekretariat yang terletak di depan sebuah mushola. Kantornya kecil dan bersih. Terdapat beberapa meja kerja. Sebuah papan gambar lengkap beserta alat ukur berdiri di pojokan. Dan tiga buah arca yang merupakan bagian dari candi diletakkan di kantor. Dua di antara arca yang ada merupakan hiasan yang terletak di bagian atas pintu gerbang.






Setelah ngobrol dengan Pak Hadi, kami mengelilingi candi sekali lagi. Entah bagaimana caranya supaya kami bisa 'bercakap-cakap' dengan bangunan yang sudah berdiri sejak beberapa abad lalu itu. Kami memilih tempat duduk yang teduh sambil mengamati candi yang tengah dalam pemugaran itu. Mengapa candi itu masih berdiri sampai sekarang mengundang pertanyaan seperti, "aku dibangun berabad lampau dan kini masih tegak untuk menjumpaimu; keindahan apa yang bisa kau gali dariku?"

Setidaknya, pertanyaan itu untuk saya pribadi.

Indonesia sendiri memiliki keragaman warisan budaya. Baik yang berbentuk fisik seperti candi mau pun yang berbentuk cerita seperti misalnya kisah Raden Panji. Warisan kebudayaan ini seharusnya bisa menjadi sumber inspirasi bagi generasi saat ini. Identitas dan kepribadian bangsa tercermin lewat warisan-warisan kebudayaan yang ditinggalkan untuk generasi saat ini.

Akan tetapi semua kembali pada pribadi masing-masing. Apakah kita sebagai generasi saat ini memilih untuk mengunjungi situs-situs kebudayaan dan menggali inspirasi dari sana atau mengunjungi bioskop-bioskop yang menyajikan khayalan berbalut teknologi canggih sebagai pilihan menikmati waktu luang.




Alih-alih ingin mencari hiburan, malah terjerumus menjadi korban industri perfilman. Di satu sisi mungkin kita puas setelah menonton film itu. Adegan-adegan memukau di layar yang didukung dengan sound sistem yang cetar menggelegar memang menghibur. Di sisi lain, partisipasi kita dalam membeli tiket akan dimasukkan dalam sebuah statistik yang mungkin akan digunakan sebagai dasar untuk menganalisa minat penonton pada film tertentu. Kemudian akan dibuat film baru yang lebih hebat, lebih dahsyat, lebih WOW, dengan menghadirkan lawan-lawan yang datang dari luarnya luar angkasa. Dan yang lebih celaka, kita menyumbang keuntungan kepada film yang kita sendiri tidak tahu apa yang hendak dicapai oleh film itu. Maka, saya hendak berkata: "Belum terlambat untuk bergerak!"

Akhirnya, mau tak mau pertemuan dengan Candi Dermo mesti berakhir. Hari beranjak sore dan petang nanti saya hendak menghadiri sebuah pagelaran teater yang diselenggarakan oleh sebuah perguruan tinggi di Surabaya. Setelah berpamitan dengan Pak Hadi dan rekan-rekan, kami meluncur kembali menuju Surabaya.

Selasa, 25 April 2017

PANTAI TAMBAK REJO, SEBUAH PESONA PESISIR BLITAR SELATAN



Blitar selatan. Bagi saya frasa ini tidak hanya mengandung pengertian sebuah tempat yang terletak di sebelah selatan Blitar. Lebih dari itu, Blitar Selatan menyimpan berbagai misteri yang selalu menggugah untuk diselami.

Minggu pagi di kota Blitar. Aroma perjalanan masih belum sepenuhnya mengendap di tubuh. Meski baru kemaren sore kami tiba, tak menyurutkan niat untuk bertamasya. Apalagi Blitar memiliki banyak lokasi wisata alam yang menarik untuk dikunjungi. Mulai dari wisata di ketinggian gunung Kelud, wisata ke perut bumi di gua Embul Tuk, wisata purbakala candi Penatatan, sampai wisata pesisir pantai seperti Tambak Rejo. Dan yang tidak boleh ketinggalan untuk disebut: makam Proklamator kita, Bung Karno yang terletak di kelurahan Bendogerit.

Di Blitar sendiri sejauh pengetahuan saya ada beberapa lokasi wisata pantai. Seperti pantai Tambak Rejo, Pantai Pangi, Pantai Serang, pantai Jebring, Princen, Wediitem, Keben, dan Pantai Jalasutra. Kami memilih berkunjung ke pantai Tambak Rejo karena lokasinya paling dekat dengan kota. Selain itu, dulu sekali pada kuartalan tahun 2000an saya pernah mengunjunginya. Dan kini setelah belasan tahun saya kembali ingin mengunjunginya.

Dari kota kami berkendara ke arah selatan. Cuaca cukup cerah dan jalanan tidak begitu ramai. Lepas dari dataran rendah, kami pun memasuki jalan pegunungan yang berliku dan naik-turun. Jalannya pun baik. Hanya sebagian kecil saja terdapat jalan rusak di atas pegunungan. Pantai Tambak Rejo memang terletak di balik barisan pegunungan yang membujur sepanjang pantai selatan jawa. Pantai ini berhadapan langsung dengan Samudera Hindia. Begitu juga dengan pantai-pantai lain di Blitar dan sepanjang pesisir selatan Jawa.

Oleh karena itu, tak heran jika nuansa mistis sangat kental. Sosok Nyi Roro Kidul yang diyakini sebagai penguasa laut selatan juga tersebar di kalangan masyarakat Blitar.

Tapi saya tak hendak bercerita tentang mitos itu.





Perjalanan melintasi gunung cukup mengasyikan. Jalanan yang menikung, kemudian menukik dan menanjak membuat kami benar-benar melupakan kemacetan dan kebisingan jalan-jalan kota Surabaya. Lembah dan tebing di sisi-sisi kami memperkaya kisah perjalanan. Begitu juga dengan struktur rumah-rumah khas pegunungan yang dibangun di atas tanah yang tidak datar, menjadi bahan decakan kami.

Kami sampai di lokasi setelah menuruni gunung. Sebelum memasuki desa lokasi para petugas karcis berjaga. Saya perhatikan mereka cukup baik dan bersedia menjangkau kami yang berada di antrian belakang karena di depan kami beberapa mobil masih dalam antrian. Nampaknya banyak juga pengunjung di hari itu. Dan ketika kami sudah tiba di lokasi pantai, saya benar-benar terkejut!

Sebelumnya saya sudah menduga pantai akan ramai karena kebetulan minggu itu ada libur panjang. Tapi yang membuat saya lebih terkejut adalah banyak pedagang yang berjualan di sepanjang lokasi wisata. Begitu juga dengan kendaraan para pengunjung yang berjubel. Rupanya pantai Tambak Rejo telah berhasil menjadi primadona wisata yang mampu menarik pengunjung. Baik bagi wisatawan dari daerah Blitar mau pun dari luar.





Segera saya parkir kendaraan dan menceburkan diri ke tengah keramaian. Seorang nelayan menghampiri dan menawarkan jasanya untuk mengantarkan berperahu. Dan bukan hanya itu, ada pula persewaan motor roda empat untuk dikendarai di atas pasir putih. Juga para penjual layang-layang. Dan yang tak ketinggalan: orang-orang yang menawarkan sewa tikar sebagai alas untuk duduk. Sementara itu para penjual cinderamata mulai dari kaos hingga kerajinan memajang jualan mereka. Sedang agak ke timur terdapat sebuah bangunan loss yang digunakan sebagai pusat penjualan hasil olahan ikan. Pendeknya, saya puas melihat keadaan pantai Tambak Rejo saat ini! Tidak seperti belasan tahun lalu di mana pantai masih belum seramai sekarang.

Kami segera menuruni pantai. Kaki-kaki kami menyentuh perairan Samudera Hindia. Dibandingkan dengan karakter pesisir utara Jawa, ombak di pesisir selatan terbilang lebih besar. Airnya pun jernih berwarna hijau dan biru. Tidak nampak sampah berserakan. Menjadikan pantai ini begitu layak untuk dikunjungi.

Pantai Tambak Rejo sendiri terletak di sebuah teluk kecil. Di bagian barat dan timur terdapat tebing-tebing yang menjorok ke arah laut. Dan dari pantai, nampak ombak-ombak berdeburan di kejauhan sana.

"Ombaknya meledak," kata anak perempuan saya.

Kami hanya bermain sebentar di pantai. Meski ombak terbilang kecil namun cukup rawan juga. Para penjaga pantai tak lelah mengingatkan para pengunjung yang berenang untuk selalu waspada dan berhati-hati.

Struktur pantainya bisa dibilang cukup curam. Dari bibir pantai sampai lapak para pedagang pesisir naik sekitar 40 derajat. Bukan tidak mungkin pada jarak 20 meter dari pantai kedalaman air sudah cukup dalam.





Dari bibir pantai kami bergerak menuju tebing yang terletak di bagian timur pantai. Ombak yang datang terus menyalak. Di kejauhan gelombang besar berkali-kali terbangun. Meski tak sampai ke bibir pantai dan 'meledak' lebih dulu di karang-karang sana, tak dapat dipungkiri bahwa ombak di pantai ini cukup besar. Lagipula, kami ingin menjelajah sisi tebing untuk melihat bagaimana ombak-ombak itu menghantam karang-karang. Saya jadi teringat puisi Abdul Hadi yang berjudul "Ombak Itulah".

Di bagian timur pantai terdapat sebuah sungai kecil. Sungai ini mengalir melalui sisi tebing dan bermuara langsung di pantai. Saat itu air sedang surut sehingga sungai kecil menampak di permukaan. Apabila air sedang pasang, sungai itu akan bercampur bersama air laut dan tak lagi nampak.

Maka, tak lengkap rasanya ke pantai jika belum berbasah ria. Di sungai kecil itulah anak perempuan saya bermain-main. Arusnya yang kecil tak perlu dikhawatirkan bagi anak seusianya. Sedang saya berlindung di balik keteduhan tebing sambil mengawasinya.




Sungguh, tamasya yang menyenangkan! Lelah bermain kami menikmati sajian khas pesisir: es degan plus ikan bakar...hmmm (saya sangat merekomendasikan untuk mencicipi makanan di sini).

Sayangnya kami tak sempat menjelajah ke sekitar pantai. Di bagian timur pantai, persis di balik tebing terdapat pantai lagi. Yaitu pantai Pasetran Gondo Mayit. Tentu pemandangan tak kalah menakjubkan di sana. Pun di bagian barat, kami tidak melihat-lihat dermaga para nelayan. Di sebelah dermaga juga terdapat pantai lain, yaitu pantai Sumur Gemuling.

Kini dalam benak terbersit keinginan untui mengunjungi pantai-pantai lain yang ada di Blitar.