Jumat, 05 Mei 2017

MENYAKSIKAN PENTAS MONOLOG BALADA SUMARAH OLEH TEATER US



Suatu malam di penghujung bulan April. Sebuah grup teater dari perguruan tinggi Universitas Surabaya yang bernama Teater US akan menggelar pertunjukan di gedung Cak Durasim. Pertunjukan itu akan mementaskan dua lakon. Yang pertama Monolog 'Balada Sumarah' karya Tentrem Lestari dan yang kedua 'Beranda Berdinding Kaca' karya August Strindberh. Pementasan itu merupakan puncak acara dari rangkaian kegiatan yang sudah berlangsung sejak bulan Maret yang diselenggarakan dalam rangka dies natalis Universitas Surabaya ke-23.

Kebetulan beberapa hari sebelumnya saya mendapat undangan untuk menghadirinya. Dan karena tidak ada halangan saya pun hadir di sana, bersama istri dan anak. Lumayan, menghibur diri sambil mengedukasi si kecil lewat pertunjukan kesenian di atas panggung.

Kami tiba di lokasi dalam keadaan gelap gulita. Rupanya listrik di area gedung Cak Durasim sedang mengalami gangguan. Tapi penerangan di dalam gedung tidak terkendala. Meski di bagian registrasi pengunjung tidak seluruhnya lampu menyala namun di dalam lampu penerangan dan AC tetap menyala.

Ketika masuk ke dalam gedung saya merasakan ada perubahan dari terakhir kali saya mengunjungi gedung Cak Durasim yang terletak di jalan Genteng Kali itu. Bagian tempat duduk penonton lebih tinggi dari sebelumnya. Sedang di bagian depan terasa menjadi lebih kecil dari sebelumnya. Entah apakah di bagian panggung juga ada perubahan.




Kegiatan dimulai oleh dua orang pembawa acara. Kemudian dilanjutkan pembacaan puisi dari naskah yang berasal dari juara pertama lomba cipta puisi yang merupakan bagian dari rangkaian kegiatan ini. Sayang, penyairnya tidak dapat hadir sehingga puisi dibawakan oleh orang lain. Padahal saya paling menantikan puisi juara pertama dibawakan langsung oleh penyairnya. Saya berpendapat, puisi yang dibawakan oleh penyairnya akan menguatkan karakter puisi itu sendiri. Tapi bukan berarti pembacaan puisi yang dilakukan tidak bagus. Hanya saja semestinya dilakukan konfirmasi dengan penyairnya terlebih dahulu perihal pembacaan puisi. Akan tetapi, tim penyelenggara tentu punya pertimbangan tersendiri.

Selanjutnya pentas diisi dengan tarian dari UKM Tari Universitas Surabaya. Tarian ini menampilkan tiga orang penari yang di atas panggung. Ketiga penari tersebut diiringi oleh musik gamelan. Setelah itu yang mendapat giliran tampil di panggung adalah dari teater pelajar. Mereka menampilkan pertunjukkan dengan menggunakan payung sebagai media pendukung yang utama. Setiap gerak dan langkah di atas panggung dari setiap orang mencoba mengeksplorasi imajinasi melalui media payung.

Pentas 'Monolog Balada Sumarah' tampil setelah itu. Dan pentas ini yan bsaya tunggu-tunggu. Saya ingin menyaksikan bagaimana tuturan seorang perempuan bernama 'Sumarah' itu ditampilkan di atas panggung. Sepertinya sangat menarik!






Pentas dimulai dengan menampilkan sosok perempuan yang duduk di atas dingklik di tengah-tengah panggung. Di sebelah kanan dan kiri terdapat dua buah bingkai yang berdiri dan diletakkan secara simetris. Sedang di belakang terdapat sebuah gambar seperti siluet sosok perempuan dalam bentuk yang simetris pula dengan warna putih di bagian tengah dan warna hitam mengelilinginya. Di bagian tengahnya terdapat tanda silang 'X', mungkin sebagai simbol dari 'suara yang terbungkam'. Mungkin juga simbol yang berkaitan dengan 'leher' karena tanda silang itu terletak di bagian leher. Simbol yang berkaitan dengan, misalnya saja, hukuman mati.

Naskah monolog itu sendiri alur ceritanya bergerak mundur. Dimulai dari pengakuan seorang perempuan atas nasib yang menimpanya di negeri asing, Sumarah mengajak para pendengarnya menyelami masa lalunya. Akan tetapi nyata bahwa masa lalu yang dikisahkannya itu bukan sekedar masa lalu perempuan yang bekerja di negeri asing karena di negeri sendiri begitu sulit mendapatkan pekerjaan. Lebih dari itu, masa lalu Sumarah adalah sejarah kelam negeri ini.

Sumarah dengan gamblang menyampaikan bapaknya yang 'diciduk' akibat tragedi di tahun 1965. Dampak dari 'pencidukan' itu ternyata tidak hanya dirasakan oleh orang yang 'diciduk' saja, tapi juga kepada orang-orang di sekeliling, dalam hal ini Sumarah sebagai anak. Padahal tak diketahui apakah benar bapak Sumarah terlibat atau tidak dalam tragedi itu.

Di sekolah Sumarah diejek oleh teman-temannya. Di masyarakat dia harus berupaya agar dia mendapat cap 'bersih lingkungan'. Pada bagian ini, naskah monolog hendak mempertanyakan kondisi sosial yang melingkupi Sumarah dalam naskah mau pun 'Sumarah-sumarah lain'.





Pendeknya, naskah ini memiliki kekuatan dari segi sosial. Realitas yang ada diangkat ke dalam naskah dan dipertanyakan. Lebih jauh, bukan hanya soal tragedi 1965 yang dipertanyakan. Tapi juga nasib Manusia Indonesia, manusia yang lahir dan besar dan bernegeri Indonesia yang bernama Sumarah. Sumarah yang di negerinya sendiri 'tidak dianggap ada' sehingga memilih mengais rezeki di luar negeri. Dan celakanya, di luar negeri sebagai TKI nasibnya tak lebih mujur. Sedang di sisi lain, seseorang yang punya kekuasaan dengan enak menjual jatah beras yang seharusnya untuk warganya. Pun jatah beras untuk rakyat itu kualitasnya....

Sumarah Menggugat, kalau saya boleh bilang. Sumarah menggugat ketidakadilan yang menimpa dirinya. Menggugat ketidakadilan yang menimpa 'Sumarah-sumarah lain. Menggugat ketimpangan dan kepincangan di sekelilingnya!

Monolog itu diakhiri dengan adegan Sumarah menikam sesuatu atau seseorang. Sebuah naskah monolog panjang telah berakhir. Meski cukup melelahkan mengikuti tuturan demi tuturan saya merasa puas. Dengan dukungan pencahayaan dan denting petikan gitar yang sesekali mengiringi monolog, menjadikan pentas itu lebih hidup.

Sayangnya waktu jua yang memisahkan. Saya tidak dapat mengikuti pementasan berikutnya karena harus segera pulang. Panggung tengah ditata untuk pementasan selanjutnya ketika kami meninggalkan gedung.

Meski begitu, saya salut pada kegigihan yang telah ditunjukkan oleh Tim Teater US. Pentas di atas panggung adalah buah dari latihan dan kerja keras yang panjang. Dan ini sangat layak diapresiasi. Semoga ke depan Teater US terus menghasilkan karya-karya yang apik.



Senin, 01 Mei 2017

BERKUNJUNG KE CANDI DERMO



Tinggal di sebuah kota yang memiliki sejarah panjang seperti Surabaya memiliki keasyikan tersendiri. Apalagi Surabaya berdekatan dengan wilayah kerajaan kuno Majapahit yang terletak di Mojokerto, tentu banyak tempat yang bisa dikunjungi.

Siang yang panas di hari minggu. Meski perjalanan menuju Krian-Sidoarjo agak tersendat, pada pukul setengah 12an kami, saya dan seorang kawan lagi, memasuki wilayah Krian. Tujuan kami kali tak lain adalah menengok situs purbakala yang ada di daerah Krian.

Sebagai pewaris kebudayaan, dalam hal ini bolehlah sedikit bergagah-gagah, kami hendak menjelajah situs-situs kuno. Untuk perjalanan pertama tujuan kami tentu yang lokasinya tak jauh dari Surabaya. Krian menjadi pilihan karena kami ingin melihat candi-candi peninggalan Majapahit yang ada di sini.

Tapi mencari sebuah situs candi ternyata agak sulit juga. Kami bertanya beberapa kali mengenai situs di daerah Terung yang merupakan peninggalan Adipati Terung. Namun dari sekian banyak orang yang kami tanya ternyata menunjukkan kepada kami situs candi lain, yaitu 'Candi Goro' (sebutan yang sepertinya diberikan oleh penduduk setempat karena ketika tiba di lokasi candi yang dimaksud bernama Candi Dermo; penamaan 'Candi Goro' mungkin karena candi itu terletak di desa Candinegoro). Entahlah, mungkin kami salah bertanya atau kata 'candi' yang kami gunakan untuk bertanya lebih pas dengan Candi Dermo. Kebetulan pula letak candi itu tidak terlalu jauh dari Terung.

Begitulah kami menuju Candi Dermo. Dalam sebuah perjalanan yang tak formal, sebuah tujuan bisa berubah sesuai dengan situasi terbaru di perjalanan. Meski tak sesuai dengan tujuan semula, perjalanan ini pun layak untuk dicatat karena apa yang kami tuju adalah satu warisan fisik dari kerajaan Majapahit.

Sampai di candi kami mendapati candi itu tengah dalam pemugaran. Tampak balok-balok kayu dipasang untuk pekerja yang melakukan pemugaran. Kami pun berkenalan dengan juru kunci candi yang bernama Pak Hadi. Oranganya ramah dan bersahabat. Kami meminta ijin melihat-lihat keadaan candi terlebih dahulu.

Kami mengelilingi candi yang lokasinya dilindungi dengan pagar kawat di sekeliling. Batu bata dari tanah liat yang dipesan khusus untuk pemugaran bertumpuk di depan pos penjagaan. Di sudut lain terdapat sebuah kamar mandi. Sedang di sisi lain batang-batang bambu tergolek di tanah.

Kami juga memasuki bagian dalam candi. Di dalamnya terdapat ruang kecil berbentuk persegi. Mungkin dulunya digunakan sebagai tempat ritual tertentu sebelum keluar dari gapura. Sedang bagian langit-langitnya merelung tinggi mengikuti struktur bangunan luar. Di bagian dalam tidak nampak ada motif atau pola tertentu seperti relief. Di bagian lantai sepertinya juga masih dalam proses pemugaran.

Kami lalu melanjutkan dengan berbincang dengan Pak Hadi. Dari percakapan dengan Pak Hadi kami mengetahui bahwa Candi Dermo merupakan sebuah gapura. Candi itu terbuat dari batu bata dengan pada bagian bangunan. Sedang di bagian lantai terbuat dari batu. Pintu masuk bagian candi terletak di bagian barat, sedang pintu keluarnya di bagian timur. Beliau juga menyampaikan bahwa pemugaran candi yang terletak di desa Candinegoro kecamatan Wonoayu-Sidoarjo ini sudah mulai dilakukan sejak 2 tahun lalu.







Lelaki yang bertugas menjadi juru kunci candi sejak tahun 2000an ini juga bercerita tentang pemugaran yang dilakukan pada saat zaman kolonial. Dan berbagai kemungkinan yang terjadi selama pemugaran di masa kolonial itu berlangsung. Beliau juga menjelaskan mengenai angka-angka yang tertera pada dinding candi. Angka-angka tersebut rupanya digunakan sebagai identifikasi penomoran susunan batu bata. Dengan begitu apabila ada kerusakan pada dinding nomor sekian, dapat langsung diidentifikasi bentuk dan batu bata yang diperlukan untuk perbaikan.

Saat ini terdapat beberapa arca yang tersimpan di sekeretariat. Dari lokasi candi kami masuk menuju kantor sekretariat yang terletak di depan sebuah mushola. Kantornya kecil dan bersih. Terdapat beberapa meja kerja. Sebuah papan gambar lengkap beserta alat ukur berdiri di pojokan. Dan tiga buah arca yang merupakan bagian dari candi diletakkan di kantor. Dua di antara arca yang ada merupakan hiasan yang terletak di bagian atas pintu gerbang.






Setelah ngobrol dengan Pak Hadi, kami mengelilingi candi sekali lagi. Entah bagaimana caranya supaya kami bisa 'bercakap-cakap' dengan bangunan yang sudah berdiri sejak beberapa abad lalu itu. Kami memilih tempat duduk yang teduh sambil mengamati candi yang tengah dalam pemugaran itu. Mengapa candi itu masih berdiri sampai sekarang mengundang pertanyaan seperti, "aku dibangun berabad lampau dan kini masih tegak untuk menjumpaimu; keindahan apa yang bisa kau gali dariku?"

Setidaknya, pertanyaan itu untuk saya pribadi.

Indonesia sendiri memiliki keragaman warisan budaya. Baik yang berbentuk fisik seperti candi mau pun yang berbentuk cerita seperti misalnya kisah Raden Panji. Warisan kebudayaan ini seharusnya bisa menjadi sumber inspirasi bagi generasi saat ini. Identitas dan kepribadian bangsa tercermin lewat warisan-warisan kebudayaan yang ditinggalkan untuk generasi saat ini.

Akan tetapi semua kembali pada pribadi masing-masing. Apakah kita sebagai generasi saat ini memilih untuk mengunjungi situs-situs kebudayaan dan menggali inspirasi dari sana atau mengunjungi bioskop-bioskop yang menyajikan khayalan berbalut teknologi canggih sebagai pilihan menikmati waktu luang.




Alih-alih ingin mencari hiburan, malah terjerumus menjadi korban industri perfilman. Di satu sisi mungkin kita puas setelah menonton film itu. Adegan-adegan memukau di layar yang didukung dengan sound sistem yang cetar menggelegar memang menghibur. Di sisi lain, partisipasi kita dalam membeli tiket akan dimasukkan dalam sebuah statistik yang mungkin akan digunakan sebagai dasar untuk menganalisa minat penonton pada film tertentu. Kemudian akan dibuat film baru yang lebih hebat, lebih dahsyat, lebih WOW, dengan menghadirkan lawan-lawan yang datang dari luarnya luar angkasa. Dan yang lebih celaka, kita menyumbang keuntungan kepada film yang kita sendiri tidak tahu apa yang hendak dicapai oleh film itu. Maka, saya hendak berkata: "Belum terlambat untuk bergerak!"

Akhirnya, mau tak mau pertemuan dengan Candi Dermo mesti berakhir. Hari beranjak sore dan petang nanti saya hendak menghadiri sebuah pagelaran teater yang diselenggarakan oleh sebuah perguruan tinggi di Surabaya. Setelah berpamitan dengan Pak Hadi dan rekan-rekan, kami meluncur kembali menuju Surabaya.

Selasa, 25 April 2017

PANTAI TAMBAK REJO, SEBUAH PESONA PESISIR BLITAR SELATAN



Blitar selatan. Bagi saya frasa ini tidak hanya mengandung pengertian sebuah tempat yang terletak di sebelah selatan Blitar. Lebih dari itu, Blitar Selatan menyimpan berbagai misteri yang selalu menggugah untuk diselami.

Minggu pagi di kota Blitar. Aroma perjalanan masih belum sepenuhnya mengendap di tubuh. Meski baru kemaren sore kami tiba, tak menyurutkan niat untuk bertamasya. Apalagi Blitar memiliki banyak lokasi wisata alam yang menarik untuk dikunjungi. Mulai dari wisata di ketinggian gunung Kelud, wisata ke perut bumi di gua Embul Tuk, wisata purbakala candi Penatatan, sampai wisata pesisir pantai seperti Tambak Rejo. Dan yang tidak boleh ketinggalan untuk disebut: makam Proklamator kita, Bung Karno yang terletak di kelurahan Bendogerit.

Di Blitar sendiri sejauh pengetahuan saya ada beberapa lokasi wisata pantai. Seperti pantai Tambak Rejo, Pantai Pangi, Pantai Serang, pantai Jebring, Princen, Wediitem, Keben, dan Pantai Jalasutra. Kami memilih berkunjung ke pantai Tambak Rejo karena lokasinya paling dekat dengan kota. Selain itu, dulu sekali pada kuartalan tahun 2000an saya pernah mengunjunginya. Dan kini setelah belasan tahun saya kembali ingin mengunjunginya.

Dari kota kami berkendara ke arah selatan. Cuaca cukup cerah dan jalanan tidak begitu ramai. Lepas dari dataran rendah, kami pun memasuki jalan pegunungan yang berliku dan naik-turun. Jalannya pun baik. Hanya sebagian kecil saja terdapat jalan rusak di atas pegunungan. Pantai Tambak Rejo memang terletak di balik barisan pegunungan yang membujur sepanjang pantai selatan jawa. Pantai ini berhadapan langsung dengan Samudera Hindia. Begitu juga dengan pantai-pantai lain di Blitar dan sepanjang pesisir selatan Jawa.

Oleh karena itu, tak heran jika nuansa mistis sangat kental. Sosok Nyi Roro Kidul yang diyakini sebagai penguasa laut selatan juga tersebar di kalangan masyarakat Blitar.

Tapi saya tak hendak bercerita tentang mitos itu.





Perjalanan melintasi gunung cukup mengasyikan. Jalanan yang menikung, kemudian menukik dan menanjak membuat kami benar-benar melupakan kemacetan dan kebisingan jalan-jalan kota Surabaya. Lembah dan tebing di sisi-sisi kami memperkaya kisah perjalanan. Begitu juga dengan struktur rumah-rumah khas pegunungan yang dibangun di atas tanah yang tidak datar, menjadi bahan decakan kami.

Kami sampai di lokasi setelah menuruni gunung. Sebelum memasuki desa lokasi para petugas karcis berjaga. Saya perhatikan mereka cukup baik dan bersedia menjangkau kami yang berada di antrian belakang karena di depan kami beberapa mobil masih dalam antrian. Nampaknya banyak juga pengunjung di hari itu. Dan ketika kami sudah tiba di lokasi pantai, saya benar-benar terkejut!

Sebelumnya saya sudah menduga pantai akan ramai karena kebetulan minggu itu ada libur panjang. Tapi yang membuat saya lebih terkejut adalah banyak pedagang yang berjualan di sepanjang lokasi wisata. Begitu juga dengan kendaraan para pengunjung yang berjubel. Rupanya pantai Tambak Rejo telah berhasil menjadi primadona wisata yang mampu menarik pengunjung. Baik bagi wisatawan dari daerah Blitar mau pun dari luar.





Segera saya parkir kendaraan dan menceburkan diri ke tengah keramaian. Seorang nelayan menghampiri dan menawarkan jasanya untuk mengantarkan berperahu. Dan bukan hanya itu, ada pula persewaan motor roda empat untuk dikendarai di atas pasir putih. Juga para penjual layang-layang. Dan yang tak ketinggalan: orang-orang yang menawarkan sewa tikar sebagai alas untuk duduk. Sementara itu para penjual cinderamata mulai dari kaos hingga kerajinan memajang jualan mereka. Sedang agak ke timur terdapat sebuah bangunan loss yang digunakan sebagai pusat penjualan hasil olahan ikan. Pendeknya, saya puas melihat keadaan pantai Tambak Rejo saat ini! Tidak seperti belasan tahun lalu di mana pantai masih belum seramai sekarang.

Kami segera menuruni pantai. Kaki-kaki kami menyentuh perairan Samudera Hindia. Dibandingkan dengan karakter pesisir utara Jawa, ombak di pesisir selatan terbilang lebih besar. Airnya pun jernih berwarna hijau dan biru. Tidak nampak sampah berserakan. Menjadikan pantai ini begitu layak untuk dikunjungi.

Pantai Tambak Rejo sendiri terletak di sebuah teluk kecil. Di bagian barat dan timur terdapat tebing-tebing yang menjorok ke arah laut. Dan dari pantai, nampak ombak-ombak berdeburan di kejauhan sana.

"Ombaknya meledak," kata anak perempuan saya.

Kami hanya bermain sebentar di pantai. Meski ombak terbilang kecil namun cukup rawan juga. Para penjaga pantai tak lelah mengingatkan para pengunjung yang berenang untuk selalu waspada dan berhati-hati.

Struktur pantainya bisa dibilang cukup curam. Dari bibir pantai sampai lapak para pedagang pesisir naik sekitar 40 derajat. Bukan tidak mungkin pada jarak 20 meter dari pantai kedalaman air sudah cukup dalam.





Dari bibir pantai kami bergerak menuju tebing yang terletak di bagian timur pantai. Ombak yang datang terus menyalak. Di kejauhan gelombang besar berkali-kali terbangun. Meski tak sampai ke bibir pantai dan 'meledak' lebih dulu di karang-karang sana, tak dapat dipungkiri bahwa ombak di pantai ini cukup besar. Lagipula, kami ingin menjelajah sisi tebing untuk melihat bagaimana ombak-ombak itu menghantam karang-karang. Saya jadi teringat puisi Abdul Hadi yang berjudul "Ombak Itulah".

Di bagian timur pantai terdapat sebuah sungai kecil. Sungai ini mengalir melalui sisi tebing dan bermuara langsung di pantai. Saat itu air sedang surut sehingga sungai kecil menampak di permukaan. Apabila air sedang pasang, sungai itu akan bercampur bersama air laut dan tak lagi nampak.

Maka, tak lengkap rasanya ke pantai jika belum berbasah ria. Di sungai kecil itulah anak perempuan saya bermain-main. Arusnya yang kecil tak perlu dikhawatirkan bagi anak seusianya. Sedang saya berlindung di balik keteduhan tebing sambil mengawasinya.




Sungguh, tamasya yang menyenangkan! Lelah bermain kami menikmati sajian khas pesisir: es degan plus ikan bakar...hmmm (saya sangat merekomendasikan untuk mencicipi makanan di sini).

Sayangnya kami tak sempat menjelajah ke sekitar pantai. Di bagian timur pantai, persis di balik tebing terdapat pantai lagi. Yaitu pantai Pasetran Gondo Mayit. Tentu pemandangan tak kalah menakjubkan di sana. Pun di bagian barat, kami tidak melihat-lihat dermaga para nelayan. Di sebelah dermaga juga terdapat pantai lain, yaitu pantai Sumur Gemuling.

Kini dalam benak terbersit keinginan untui mengunjungi pantai-pantai lain yang ada di Blitar.



Senin, 24 April 2017

BERKUNJUNG KE BLITAR BAGIAN 2



Apa yang sudah diperkirakan sebelumnya benar-benar terjadi. Kami mendatangi stasiun di hari H dan mendapati tiket sudah habis. Kami segera meluncur ke Bungurasih (terminal ini sebenarnya bernama Terminal Purabaya; namun karena terletak di wilayah Bungurasih lebih dikenal dengan terminal Bungurasih), terminal bus antar kota terbesar di Jawa Timur.

Saya tidak ingat kapan terakhir kali ke Bungurasih. Seingat saya, waktu itu terminal masih dalam perbaikan. Kini terminal sudah selesai dibangun. Para penumpang yang akan naik bus harus naik ke lantai dua terlebih dahulu. Sedangkan lantai satu hanya untuk menunggu.

Dari lantai dua selanjutnya  menuju lorong yang melintasi pelataran bus. Sepertinya pembangunan lorong di atas ini dimaksudkan agar lalu lalang calon penumpang tidak mengganggu arus lalu lintas bus. Mungkin juga untuk menghindari resiko kecelakaan apabila terlalu banyak lalu lalang di jalur lalu lintas bus.

Setelah keluar dari lorong kemudian menuruni tangga sesuai dengan jurusan yang hendak dituju. Kami, saya dan anak saya, turun di bagian bus jurusan Surabaya-Malang. Sebenarnya tersedia bus jurusan Surabaya-Blitar yang melewati daerah Kediri. Tapi kami tidak memilihnya. Idenya adalah, supaya di terminal Arjosari Malang kami bisa istirahat sekedar melepas lelah.

Pukul 9 kurang bus yang kami tumpangi melaju. Jalanan lancar. Bus melintasi tol baru. Saya agak terkesima ketika bus sampai di kilometer 50. Sepertinya jalan tol yang kami lewati membelah sebuah bukit. Sepanjang kiri-kanan jalan nampak lereng mengapit. Makin ke tengah makin curam dan kembali melandai. Bus baru keluar dari celah itu ketika sampai di kilometer 52.



Lepas dari tol jalanan lancar. Hanya ada sedikit kemacetan ketika memasuki daerah Lawang dan Singosari. Selebihnya bus melaju dengan kecepatan stabil. Kami tiba di terminal Arjosari Malang sekitar pukul 11.

Seperti halnya Bungurasih, terminal Arjosari pun memiliki wajah baru. Konsep 'tidak ada lalu lalang manusia di lintasan bus' sepertinya hendak diadopsi oleh terminal-terminal yang terbilang ramai di Jawa Timur ini. Entah apakah konsep itu berhasil atau tidak. Pastinya kami harus naik-turun tangga untuk menuju antrian bus yang jaraknya hanya beberapa meter saja. Sungguh melelahkan....

Bus tujuan Blitar sudah penuh ketika kami selesai istirahat makan siang. Terpaksa kami harus menunggu bus berikutnya. Para calon penumpang semakin bertambah. Lima belas menit berlalu namun bus yang ditunggu belum juga tiba.

Sekitar 100 meter dari tempat tunggu terdapat sebuah bus. Entah siapa yang pertama kali memberi tahu, tapi orang-orang yang hendak menuju Blitar bergerak ke sana. Katanya bus itu tujuan Blitar dan akan segera berangkat. Kami pun mengikuti arus orang-orang menuju bus itu. Bangunan berlantai dua itu tak lagi kami hiraukan.



Akhirnya kami berada di atas bus yang akan membawa kami ke Blitar. Sebuah bus ekonomi tanpa AC dengan penumpang yang berdesak-desakan. Panas dan penuh kesah. Beberapa orang pengamen dan pedagang asongan meliuk-liuk di antara punggung penumpang yang berdiri. Mereka mencoba mengais rezeki dari sesaknya bus antar kota. Sungguh, situasi seperti ini akan selalu dirindukan!

Di tengah kondisi itu sedapat mungkin saya menghibur anak saya. Saya tidak ingin perjalanan ini menjadi pengalaman yang melelahkan dan menjemukan baginya. Sesekali saya bercerita tentang tempat-tempat yang akan kami lalui. Saya selipkan pula cerita tentang pemandangan-pemandangan yang kami lihat dan akan kami lihat. Sayangnya, ketika bus melintasi Karangkates yang jalannya meliuk-liuk, anak saya sudah tertidur. Padahal saya ingin menunjukkan padanya tiga batang 'rokok raksasa' dan lekak-lekuk jalan di atas gunung.

Lepas dari Kota Malang perjalanan mulus setelah sebelumnya merayap karena ada kemacetan. Satu demi satu penumpang datang dan pergi. Memasuki Kabupaten Blitar tak nampak penumpang bertambah. Kemudian satu per satu penumpang turun. Bus menjadi lebih longgar. Dan ketika mendekati Kota Blitar kami bertiga sudah bisa duduk tanpa berdesak-desakan lagi.



Sekitar pukul 4 kami tiba di terminal Patria Blitar. Mendung menyergap di langit. Jalanan di terminal basah. Sekawanan burung terbang di langit rendah. Satu perjalanan sudah selesai untuk dinikmati. Sambil menunggu saudara saya menjemput kami, kami minum es degan di sebuah depot di terminal.





BERKUNJUNG KE BLITAR BAGIAN 1



Sekali pun perjalanan ke Blitar baru akan berlangsung pada hari sabtu 22 April nanti, namun kesibukan perjalanan sudah berlangsung sejak beberapa hari sebelumnya.

Siang itu saya mendapat kabar. Saudara saya yang tinggal di Blitar mengalami kecelakaan. Kecelakaan itu menyebabkan tangan kiri saudara perempuan saya patah tulang.

Tanpa pikir panjang saya pun memutuskan bahwa akhir pekan nanti kami akan menjenguknya. Kebetulan pada hari senin ada tanggal merah. Kesempatan yang baik untuk berkunjung ke kota Blitar yang merupakan kampung halaman (saya tidak tahu apakah kota yang akan saya tuju layak disebut sebagai kampung halaman; pada kesempatan lain mungkin perlu juga dibahas hal ini).

Esok paginya saya meluncur ke stasiun Wonokromo untuk memesan tiket. Kota yang hendak saya tuju tidak menyediakan tiket online karena tergolong jalur tujuan pendek. Pemesanan tiket hanya mungkin dilakukan di loket stasiun.

Pukul 8 kurang saya sudah tiba di stasiun. Ternyata antrian untuk pengambilan nomor antrian sudah panjang. Saya pun segera mengambil tempat. Dan ketika pengambilan nomor antrian sudah dimulai saya mendapat antrian nomor C029. Lumayan dibandingkan mendapat nomor antrian misalnya saja C050, pikir saya berbesar hati.



Tapi ternyata jam buka loket dimulai pukul 9. Di sini saya sedikit gelisah. Sebab jam kerja saya dimulai jam 8 pagi, dan saya harus sesegera mungkin tiba di kantor karena ada pekerjaan yang harus diselesaikan.

Meski begitu saya coba menahan diri. Toh ini kejadian yang jarang terjadi. Lagipula sehari sebelumnya sudah ijin akan datang terlambat untuk urusan tiket. Maka saya pun mencari warung kopi terdekat untuk menunggu. Dan warung yang dapat saya temukan terletak di pangkal jalan jagir persis sesudah perlintasan kereta. Di sana saya memesan segelas kopi sambil menata hati dan memandang pintu air legendaris: Pintu Air Jagir. Perhitungan saya nomor antrian C029 tidak akan memakan waktu lama.

Pukul 9 kurang saya kembali ke stasiun tapi loket masih belum buka. Baru pukul 9 persis panggilan nomor antrian dimulai. Dengan dibukanya loket, waktu menunggu seolah menjadi lebih pendek karena kita tahu antrian yang kita tunggu bergerak.

Tapi perkiraan saya keliru. Sampai pukul setengah 10 antrian baru sampai pada nomor C004. Ini berarti dalam rentang waktu setengah jam hanya 4 sampai 5 pemesan tiket yang terlayani. Jika dikalkulasi dengan nomor antrian C029, wah bisa runyam, pikir saya. Bukan tidak mungkin saya baru akan mendapat tiket pada pukul 11an. Mungkin bisa lebih lama lagi. Tapi bukan tidak mungkin lebih cepat dari dugaan saya.

Tanpa pikir panjang saya pun meninggalkan stasiun. Saya merasa sepertinya akan sia-sia menunggu lebih lama lagi. Kecuali jika saya pada hari itu tidak bekerja, tentu saya akan menunggu lebih lama lagi. Tapi saya bekerja dan datang terlambat lebih dari 30 menit mengandung nilai tertentu. Sedang saat itu sudah 90 menit saya terlambat. Waktu adalah uang, kata pepatah. Pesan moralnya adalah gunakan waktu seefektif dan seefisien nungkin. Karena waktu sangat berharga. Dan saya sudah tertinggal 90 menit dari jam masuk kerja. Mestinya orang-orang yang menunggu antrian juga dipandang sebagai subjek yang berkata: "waktu adalah uang!"

Sebenarnya keputusan meninggalkan antrian didasari pula oleh beberapa pertimbangan lain selain pekerjaan. Perhitungan saya, sebaiknya membeli tiket pada hari H keberangkatan. Dengan begitu tidak perlu repot-repot mengantri meski sebenarnya pertimbangan itu seperti berjudi. Sebab membeli tiket di hari H cenderung sudah habis. Apalagi akhir pekan ini ada libur panjang. Tapi itu mungkin lebih baik dibandingkan dengan sudah mengantri tapi ternyata tidak mendapat tiket.

Tapi demi mengobati kekecewaan, saya berusaha berpikir positif. Opsi lain: kami akan berangkat dengan menggunakan bus jika tiket pada hari H sudah habis. Opsi lain seperti berkendara untuk kali ini saya hindari. Sebab saya hendak bepergian bersama istri dan anak. Seandainya saya berangkat sendiri saya lebih suka menikmati perjalanan dengan berkendara roda dua.




Kelak, pada hari H, kami benar-benar tidak mendapat tiket dan kami benar-benar melakukan perjalanan dengan menggunakan bus antar kota.



Sabtu, 15 April 2017

KOMUNITAS MATA HATI, SATU SESI REKAMAN


Libur panjang di hari sabtu sesudah Jumat Agung. Siang itu saya mengunjungi kawan komunitas yang sudah lama tidak bertemu Komunitas Mata Hati (KMH).

KMH sendiri merupakan komunitas kawan-kawan disabilitas tunanetra. Komunitas ini didirikan sekitar tahun 2000an. Basecamp yang mereka tempati sejauh pengetahuan saya sudah berpindah beberapa kali mulai dari di perumahan Griya Pesona Asri sampai akhirnya bermarkas di sini.

Saya mulai bersentuhan dengan KMH kurang lebih pada tahun 2009 ketika melakukan pendampingan dalam program yang diselenggarakan oleh Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur. Pertemuan itu berlanjut dengan terlibat dalam beberapa kegiatan pementasan yang dilakukan oleh KMH. Dan pada tahun 2011 ketika saya bekerja di sebuah LSM yang bergerak di bidang persampahan dan sanitasi, mulai jarang berkumpul meski sesekali masih bersentuhan baik dengan personel-personelnya seperi Gandi W, Dian Ika, atau pun Danny Dwi, mau pun mengikuti pentas-pentas mereka dalam berbagai kegiatan.

Setelah menyelesaikan urusan di rumah saya pun meluncur. Sampai di sana sudah ada beberapa personel seperti Ipung dan Danny. Saya sedikit terkejut. Basecamp mereka yang terletak di Rungkut Asri RL 3F/18 mengalami perubahan. Garasi rumah Gandi W dan Dian Ika telah berubah menjadi sebuah studio. Renovasi itu dibiayai oleh tuan rumah yang menghabiskan dana kurang lebih 11 juta namun meminjam dari kas KMH yang diangsur oleh si empu rumah sampai akhir tahun 2017. Selain itu juga ada bantuan dari sebuah perusahaan penyedia jasa komunikasi.

"Ada kemajuan," pikir saya.
Dalam studio itu terdapat beberapa meja kerja dan kursi-kursi. Seperangkat PC tapi tanpa monitor (kawan-kawan tunanetra menggunakan PC tanpa disertai monitor karena mereka mengoperasikannya dengan bantuan audio).

Sementara saya datang Danny dan Ipung tengah mempersiapkan sebuah rekaman. Lagu yang mereka pilih untuk dimainkan adalah lagu berjudul "Pemuda" ciptaan Chandra Darusman. Mereka melakukan rekaman dengan menggunakan metode track. Danny bertindak sebagai gitaris yang memberi input nada-nada dari senar gitarnya. Sedang Ipung bertindak sebagai operator yang melakukan perekaman sekaligus sebagai pengisi perkusinya. Dan yang tak boleh lupa disebut adalah Sigit, salah kawan yang menjadi pendamping KMH.

Ketika saya datang, Sigit dan Prana (bass) sedang pergi membeli kabel. Saya tidak bertemu dengan tuan rumah karena mereka sedang ada di luar. Meski begitu, rumah itu sudah seperti rumah sendiri.  Tak seberapa lama datang juga pendamping KMH yang lain, Mbak Titis dan sang suami Mas Yos. Sebelum akhirnya datang Eka yang terampil memainkan alat musik biola dan organ.



Sepertinya formasi sudah mulai lengkap. Suasana dalam studio menjadi riuh. Percakapan berlangsung mulai dari proses latihan sebelum rekaman sampai perbedaan nada C7 dan C5. Saya tidak mengerti banyak tentang musik, tapi melihat mereka saling berargumen mengenai bentuk-bentuk nada mayor menunjukkan bahwa mereka cukup mumpuni di bidang musik. Saya hanya bisa tersenyum melihat masing-masing dari mereka melontarkan argumen yang lalu dilanjutkan dengan kembali ke topik utama: rekaman.

Tengah asyik rekaman datang dua orang tamu laki dan perempuan. Mereka dari CeMARS. Ketika saya keluar ternyata yang datang Haris Teguh, kawan yang dulu pernah sama-sama menjadi relawan di sebuah NGO. Wah, benar-benar kebetulan bisa bertemu dengan kawan lama. Sedang yang satu lagi bernama Mufti.

Setelah ngobrol sebentar saya kembali ke studio. Mereka ditemani oleh Mbak Titis. Sementara itu input rekaman mulai beralih dari satu personel ke personel lain. Setelah Danny selanjutnya giliran Eka di bagian organ. Dian Ika datang sebentar untuk melakukan rekaman singkat sebelum meluncur lagi mengurusi pekerjaannya di luar.

Begitulah proses rekaman itu berlangsung sampai sore. Siang itu saya menyaksikan sebuah proses dari kawan-kawan disabilitas. Sebuah proses yang kelak akan menjadi sebuah album musik dari sebuah komunitas tunanetra bernama Komunitas Mata Hati.







Jumat, 14 April 2017

PERSIAPAN PENTAS TEATER KAKI LANGIT



Pada bulan april  beberapa UKM teater dari perguruan tinggi yang ada di Surabaya akan menggelar pentas teater. Salah satu yang mengagendakan untuk pentas di bulan April ini adalah Teater Kaki Langit.

Grup teater yang bermarkas di kampus Unesa Fakultas Bahasa dan Seni ini akan menggelar pertunjukan dengan lakon "Panggung Di Atas Rel" karya Tri Nanang Bs. Bertindak sebagai sutradara Wahyu Agung W. Sedangkan yang bertindak sebagai aktor antara lain Astomo, Tong, Kisnandar, Alip, Dendi, Nayoko, Marni, dan Hera yang merupakan mahasiswa-mahasiswa Unesa. Pertunjukan akan digelar di gedung Sawunggaling pada hari minggu 16 April 2017.

Siang itu kebetulan saya berkeliling dan singgah di kampus FBS. Anak perempuan saya hendak pipis sehingga kami harus menumpang di toilet FBS. Tanpa sengaja kami melewati sekelompok mahasiswa yang tengah menggambar dalam sebuah media besar. Ketika kembali kami sempatkan diri melihat-lihat dan bertanya.

Rupanya mereka tengah mempersiapkan gambar yang akan digunakan sebagai background panggung pementasan teater pada hari minggu besok. Pentas tersebut juga akan menampilkan tari remo sendratasik oleh Tia Rahayu.

Nampak pada gambar bentuk-bentuk rumah beratap seng. Mungkin maksudnya hendak melukiskan suasana perkampungan yang biasanya terdapat di sekitat rel kereta (sesuai dengan judulnya "Panggung Di Atas Rel).

Selain rumah-rumah dari papan beratap seng, dalam gambar tersebut juga dimunculkan bentuk-bentuk representasi dari kehidupan urban, khususnya perkampungan di sepanjang rel. Antara lain kurungan ayam dari bambu yang biasa digunakan untuk mengurung ayam jago. Juga jurigen yang biasanya digunakan sebagai tempat menyimpan air atau pun minyak, sebuah wadah dengan banyak fungsi. Juga digambarkan sampah-sampah plastik botol yang berkumpul dalam sebuah tong. Mungkin hendak menyampaikan bahwa 'manusia' yang tinggal di dalamnya mengais rejeki dengan mengumpulkan botol-botol bekas. Pendeknya, sebuah realitas sosial hendak diangkat ke dalam bentuk seni, tentu sangat menarik.

Tak jauh dari situ beberapa mahasiswa tampak sibuk mempersiapkan materi panggung yang lain. Sedang yang lainnya bermain dengan alat musik gitar dan ketipung. Mereka tengah mempersiapkan pentas yang bertajuk Amit-amit Jabang Bayi #2 Kobongan Kertas.

Saya hanya bisa berharap, semoga pentas mereka sukses dan tak lelah melahirkan karya-karya panggung. Selamat berkarya Tim Teater Kaki Langit.