biar
biarlah
biarkanlah bungkam beribu jeruji
mengatup pintu-pintu lebar
menangkup dinding-dinding tebal,
biarkanlah!
bagai sentuhan malam pertama
jemari mendesak silih meraih
bagai gelombang merabung bergulung-gulung
dan bagai angin berkelok di lintang 100
jemari naik mendaki leher
lalu meliuk menyapu wajah
dari sepasang pengantin di ujung
riuh jam besuk
amboi, betapa lekap tiap kecup
jarak nan jauh rantas
bilangan hari tuntas
dan pada kayu yang niscaya melapuk
biar kandas kini atau nanti!
gelombang surut badai reda
rindu tertangguh
di tepi segala yang terpendam
sebuah pertemuan utuh kembang dalam rutan
Surabaya, Desember 2018
Tidak ada komentar:
Posting Komentar